Selamat Tinggal Madinah: Kami Akan Merindumu

Opini281 views

Oleh: Taufik Hasyim

Tak terasa seminggu sudah kami di Madinah dan hari ini, Ahad 21 Juli 2024, kami harus pergi meninggalkannya.

Saat kami datang dan mengucapkan salam pertama kali pada baginda Nabi Muhammad Saw., tak terasa air mata ini mengalir deras tak terbendung, ibarat banjir yang membasahi daratan. Hari kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh, air mata itu tetap mengalir, tetapi tidak sederas pertemuan pertama.
Ketika saat perpisahan tiba, kami tak tahu harus bagaimana, seakan tak bisa berkata apa-apa untuk mengucapkan salam pamitan pada Kekasihku Muhammad Saw.

Di Madinah ini, kami ikuti jejak napak tilas beliau, kami kunjungi tempat perjuangan beliau.
Kami ke Gunung Uhud untuk mengucapkan salam pada Singa Allah Sayyid Hamzah dan syuhada Uhud yang rela berkorban untuk Islam dan Rasulullah.

Kami juga kunjungi Makam Baqi’, yang di sanalah ribuan sahabat nabi yang utama di kubur, di sana ada sahabat Usman, Abu Hurairah Ra., sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.
Di sana di kubur istri-istri Rasulullah, ada Aisyah, ada Hafsoh, ada Zainab Ra. Di sana juga di kubur beberapa putra-putri Rasulullah.

Kami juga kunjungi Masjid Quba, yang jika shalat di dalamnya setara dengan pahala ibadah umrah.

Kami juga kunjungi Masjid Ghomamah, Masjid Abu Bakar, Sumur Gharas, Khandaq, Masjid Qibalaitin, dan beberapa tempat lain yang memiliki makna dan nilai sejarah dalam perjuangan Islam.

Ya Allah, saksikanlah bahwa kami bersyahadat di hadapan Nabi-Mu.
Wahai Kekasih Allah, Nabi Muhammad, saksikanlah bahwa kami bersyahadat di depanmu. Kami juga menyaksikan bahwa engkau telah melaksanakan tugas kenabian dengan membawa misi Islam sebagai agama tauhid.

Wahai para istri-istri nabi, saksikan bahwa kami bersyahadat di hadapan panjenengan semua.
Wahai para sahabat nabi, saksikanlah bahwa kami bersyahadat di hadapan Nabi Muhammad Saw.

Wahai Madinah, kami menyaksikan bahwa semua tempat di sekelilingmu adalah tempat perjuangan Kekasih Allah Muhammad Saw.

Izinkan kami pamit menemui keluarga, anak, famili, kerabat, tetangga, dan sanak tauladan. Bukan kami ingin berpisah denganmu, namun garis kehidupan mengharuskan kami untuk kembali ke Tanah Air, untuk meneruskan garis takdir kami.

Wahai Nabi Muhammad, maafkan kami jika ziarah kami di Madinah ini penuh maksiat, penuh kealpaan, penuh main-main dan tidak serius dalam sowan menghadapmu.
Wahai Nabi Muhammad, akui kami sebagai umatmu dan kami ingin bersamamu kelak di dalam surga firdaus.

Wahai Nabi Muhammad Kekasih Allah.. doamu istijabah…

Ya Allah, berkat keistimewaan Nabi Muhammad,
jadikan haji kami haji mabrur, umrah yang maqbul, ibadah yg diterima, ziarah yang bernilai ibadah di hadapan-Mu.

Ya Allah, jadikan anak-anak kami anak yang solehin-solehat,
Panggil semua keluarga, anak anak kami, famili kami, kerabat kami, sanak tauladan kami, panggil mereka semua untuk bisa sampai kedua tanah harammu Makkah dan Madinah untuk berhaji, umrah dan ziarah di makam Nabi-Mu.

Kami tahu, kami tidak pantas bermunajat di hadapan Nabi-Mu karena kotornya hati kami. Tapi kami yakin, bahwa rahmat-Mu lebih luas ketimbang dosa kami. Oleh karenanya, ampuni kami, hapus dosa, dan khilaf kami. Sebab, engkau maha pengampun dan maha penerima tobat.
Amin yaa robbal aalamiin…

Salam Rindu dari Madinah Al Munawwaroh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *