Oleh: Fathol Haliq*)
Universitas Islam Negeri (UIN) sudah di depan mata. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya dosen bergelar doktor menjadi professor.
Meskipun gelar tersebut mengundang polemik yang kuat khususnya di kalangan akademisi dan peneliti, tetapi secara administratif, fenomena ini semakin kelihatan konstribusi IAIN sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Madura.
Konstribusi lainnya semakin terlihat pada akreditasi unggul dari lima prodi yang ada di IAIN Madura. Empat program studi berada di Fakultas Tarbiyah yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI), Tadris Bahasa Indonesia (TBIN), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan satu prodi berada di bawah Fakultas Syariah.
Keunggulan ini didasarkan pada sembilan kriteria yang telah distandarisasi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang diasesori oleh profesor, akademisi, peneliti dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia.
***
Secara akademik, konstribusi IAIN Madura tidak diragukan apalagi setelah lima dekade terakhir. Sejak didirikan pada 1966 praktis IAIN Sunan Ampel Pamekasan, STAIN Pamekasan, IAIN Madura telah menjadi lembaga dakwah yang menitikberatkan pada penguatan ajaran-ajaran Islam. Memang itulah ciri khas IAIN sebagai perguruan tinggi keagamaan (Abdullah, 2000).
Bagi akademisi Guru Besar Pascasarajana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwa perguruan tinggi ini memang memiliki ciri khas keagamaan yang kuat. Sebut saja beberapa prodi-prodi awal lebih mengedepankan peralihan ajaran keagamaan dan memperkuat serta memperteguh nilai keagamaan.
Dalam kurun waktu satu dekade terakhir Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), termasuk IAIN Madura mempunyai pekerjaan rumah yang rumit, kompleks, kompetitif. Tidak saja transformasi kelembagaan, hal yang substasial transformasi akademik. Pekerjaan rumah ini berkaitan dengan pergeseran paradigma (shifting of paradigm) yang ditandai dengan cara pandang keilmuan yang berbeda dengan sebelumnya (Kuhn, 1997).
Pergeseran paradigma ini seakan semakin membuat perguruan tinggi penuh dengan tantangan dan progresivitas akademiknya yang sudah seharusnya dikerjakan oleh IAIN yang akan bertransformasi kepada UIN Madura dengan distingsi keilmuan yang berbeda dengan perguruan tinggi lain di Indonesia. Merdeka belajar dari MBKM merupakan contoh yang paling penting dikedepankan untuk trasnformasi keilmuan di perguruan tinggi.
Pekerjaan rumah lainnya berkaitan dengan keterlibatan civitas akademika dalam transformasi kultural masyarakat. Dalam Tridharma Perguruan Tinggi hal ini termaktub dengan jelas dalam pengabdian masyarakat. Tuntutan keterlibatan civitas akademika, tidak saja mahasiswa juga dosen. Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kepulauan, khususnya Pulau Poteran di Fakultas Tarbiyah (FT) dengan data-data pendidikan kepulauan menjadi menarik dan penting dilanjutkan. Tahun 2023 misalnya Fakultas Tarbiyah IAIN Madura melakukan pendataan terhadap lembaga pendidikan, sosial kemasyarakatan dan UMKM yang bergerak massif di kepulauan terdekat dengan pulau Madura tersebut.
Keterlibatan dosen-mahasiswa telah menghasilkan luaran yang menarik berkaitan lembaga pendidikan, sosial kemasyarakatan dan UMKM kepulauan. Tentu saja pekerjaan rumah ini lalu dilanjutkan dengan KKN Kolaboratif (2024) yang melibatkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Annuqayah (UA) Sumenep, dan IAIN Madura. Hal ini dipandang perlu tidak saja bagaimana mahasiswa belajar juga diharapkan adanya “sentuhan akademik” yang lebih sustainable berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan di kepulauan Madura.
Kolaborasi antara mahasiswa dan dosen serta masyarakat juga menjadi tuntutan akademik dalam riset. Riset yang paling digalakkan untuk menyambut UIN Madura yaitu international research and engagement yang telah memberangkan civitas akademika Fakultas Tarbiyah IAIN Madura ke Malaysia, Thailand, dan Singapura. Pengalaman penulis bersama Ketua dan Sekretaris Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam, Tadris Matematika (TMT), dan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (TIPA) memberikan wawasan internasional yang menarik ketika riset dan pengabdian di negara tersebut. Tentu ini akan menjadi bekal bagaimana seharusnya pendidikan tinggi yang akan nantinya dalam beberapa tahun ke depan akreditasi mengalami perubahan paradigma keilmuan akademik dan non akademik yang khas Madura, juga internasional.
Pekerjaan rumah ini tentu saja tidak ringan untuk dilaksanakan di perguruan tinggi keagamaan Islam dengan distingsi kemaduraan yang kuat. Memasuki usia yang telah lebih dari setengah abad ini butuh kerja keras di tengah kompetisi perguruan tinggi khususnya di Madura, Indonesia pada umumnya.
***
Usia yang telah matang, lima puluh delapan akan menjadi kado istimewa jika UIN Madura benar-benar terwujud tahun ini. Insya Allah!
*) Dosen Psikologi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN Madura dan Ketua Forum Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama (FORDETAK) Wadek 3 seluruh Indonesia.





