Oleh: Mohammad Ali Al Humaidy*)
Kehadiran masyarakat akan menghadirkan keunikan tersendiri, baik dari aspek budaya, tradisi lokal, dialektika bahasa dan stratifikasi sosial. Kehidupan sehari-haripun akan tampak ada perbedaan antar masyarakat. Masyarakat Madura terlihat sangat berbeda ketika mereka beraksi. Di tengah padatnya pasar, di setiap sudut desa yang sibuk, mereka tidak pernah terlihat terburu-buru, tetapi selalu penuh fokus. Setiap gerakan mereka, dari memikul barang dagangan hingga membangun rumah, dipenuhi dengan tekad yang tak tergoyahkan. Mereka bekerja dengan tangan kasar dan tubuh yang lelah, namun mata mereka penuh semangat. Tidak ada ruang untuk menyerah di dalam dunia mereka. Keuletan dan ketekunan tampak dalam setiap detil keseharian mulai dari cara merawat ternak hingga membangun kebun dengan penuh ketelitian. Meski tanah di Madura gersang, mereka tahu cara menyuburkannya dengan memanfaatkan setiap tetes air dan waktu yang mereka miliki.
Namun, ketekunan itu tidak berarti masyarakat Madurakaku. Dalam sebuah pertemuan di ladang pertanian, di pinggir Jalan Raya, sekumpulan Pak Tani Madura berbicara dengan penuh semangat tetapi tidak dengan nada yang keras. Mereka mendengarkan satu sama lain, menghargai pendapat meski terkadang berbeda. Ketika pembicaraan mulai meruncing, mereka saling melempar senyum seolah mengisyaratkan satu sama lain bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan cekcok. Nilai agama yang mereka pegang teguh tidak membuat mereka menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, mereka menyambut perubahan dengan hati terbuka, selalu siap beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Mereka tahu kapan harus tegas dalam prinsip dan kapan harus lentur dalam menghadapi tantangan.
Di tengah keramaian sebuah acara keluarga di salah satu Desa di Sumenep, tampak wajah-wajah yang penuh keceriaan. Tapi, lebih dari sekadar tawa, ada rasa solidaritas yang sangat nyata. Setiap orang memiliki peran dan setiap peran dijalani dengan penuh tanggung jawab. Seorang wanita tua menyusun hidangan, seorang anak muda membersihkan meja, dan seorang pria menyiapkan tempat duduk untuk tamu yang datang. Mereka bekerja tanpa perasaan terburu-buru tetapi hasilnya selalu memuaskan. Semua itu berakar dari sebuah adagium yang sudah mengakar dalam diri masyarakat Madura: song-osong lombhung. Istilah yang sederhana itu adalah panggilan untuk bergerak bersama, saling membantu tanpa menunggu diminta. Jika satu orang membutuhkan bantuan tentu yang lainnya langsung datang tanpa ragu. Di sana, tidak ada rasa enggan atau menunggu imbalan sebab setiap tindakan didorong oleh kebersamaan yang mendalam.
Matanya tak lepas dari kerumunan yang sibuk bekerja, namun ia tidak terlihat gelisah. Sebagai seorang kepala keluarga, ia tahu bahwa keharmonisan adalah yang utama. Ketika sedikit keributan muncul seperti sebuah ketidakcocokan kecil antar anggota keluarga tentang cara menyusun hidangan, ia bangkit dengan tenang. Mendekati, lalu mengajak bicara dengan menyapa. “Kita semua di sini untuk satu tujuan, bukan?” ucapnya, suaranya tenang namun penuh keyakinan. “Mari kita selesaikan dengan cara yang baik.” Tak perlu banyak kata, semuanya diam, seolah mengerti bahwa tak ada tempat untuk pertengkaran dalam rumah mereka. Dalam sekejap, ketegangan hilang begitu saja, digantikan dengan senyum dan tawa, seiring dengan sempurna tersusunnya hidangan.
Begitulah cara orang Madura mengelola hidup. Penuh perhatian terhadap detail tetapi tidak mengorbankan kedamaian. Mereka tahu bagaimana menghargai dan menjaga hubungan sosial, serta bagaimana merawat kerukunan di dalamnya. Perpecahan bukanlah hal yang mereka inginkan. Ketika ada perbedaan, mereka memilih untuk berdialog dan mencari titik temu bukan menyalahkan. Setiap perbedaan dianggap sebagai bagian dari keberagaman yang harus dipelihara bukan untuk dihindari. Jika nilai-nilai ini diterapkan dalam skala yang lebih besar, mereka bisa menjadi kekuatan yang luar biasa untuk pembangunan nasional.
Ketekunan mereka dalam bekerja, didorong oleh semangat solidaritas yang tinggi, dapat mempercepat tercapainya tujuan bersama. Pembangunan ekonomi tidak hanya berfokus pada angka-angka atau proyek besar, tetapi juga pada bagaimana setiap individu dalam masyarakat berkontribusi dengan cara mereka masing-masing. Sebuah desa di Madura mungkin tidak memiliki fasilitas yang lengkap, namun setiap orang di sana tahu bagaimana membangun kehidupan bersama. Mereka membantu tetangga tanpa perlu menunggu balasan, dan ini menjadi pondasi kuat yang menggerakkan roda ekonomi secara perlahan namun pasti. Di setiap pasar, ada orang Madura yang berdagang dengan jujur, dan di setiap sudut desa, ada yang bekerja keras untuk menciptakan peluang bagi keluarganya.
Mereka tidak menuntut kemewahan, tetapi mereka tahu bagaimana membuat hidup mereka lebih baik, satu langkah kecil demi satu langkah besar. Bekerja dengan tekun, bersama-sama, dan mengutamakan keharmonisan, mereka perlahan-lahan membangun fondasi ekonomi yang lebih adil dan merata, meskipun tidak tampak gegap gempita seperti kota besar. Ketika mereka bekerja, mereka melakukannya untuk semua, bukan hanya untuk diri sendiri. Di Madura, tidak ada yang lebih penting selain kebersamaan. Mereka mengerti bahwa keberhasilan bersama lebih berarti daripada keberhasilan individu. Dalam kerja keras mereka, mereka memupuk rasa saling peduli, saling berbagi, dan bekerja bersama untuk satu tujuan: kesejahteraan bersama.
Nilai-nilai inilah yang, jika dibawa ke tingkat yang lebih besar, bisa menjadi landasan untuk mempercepat pembangunan nasional. Solidaritas, kerja keras, dan keharmonisan ini semua adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang lebih adil, tidak hanya di Madura, tetapi di seluruh Indonesia. Masyarakat Madura mengajarkan kita bahwa pembangunan tidak hanya soal pembangunan infrastruktur atau teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun hubungan antar sesama, bagaimana kita menjunjung tinggi kebersamaan, dan bagaimana kita merawat perbedaan. Ini adalah pelajaran berharga yang bisa membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih merata.
Dengan semangat yang dimiliki, masyarakat Madura tidak hanya membangun diri mereka sendiri tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan bangsa yang lebih besar. Tentu dengan mengedepankan rasa persatuan di tengah keragaman. Madura tidak akan lapuk dari peradaban namun menjadi tantangan Madura mampu mewarnai peradaban global tanpa kehilangan jati diri Madura.
Wallahu a’lam.
*) Wakil Rektor III UIN Madura.




