KABAR MADURA | Temu wali santri di lingkungan IBS PKMKK tidak lagi sekadar forum silaturahmi administratif, melainkan ruang transformasi sosial-spiritual yang menandai perubahan paradigma pendidikan dari model yang terpisah menjadi model kolaboratif dan terintegrasi.
Momentum tersebut memperoleh dimensi baru melalui sosialisasi aplikasi School Talk yang dikembangkan oleh SEVIMA, sehingga pertemuan tersebut bukan hanya menguatkan relasi manusia, tetapi juga memperluas jangkauan amanah pendidikan ke dalam ruang digital yang lebih sistematis dan transparan.
“Pendidikan anak adalah proyek kolektif yang melibatkan jaringan sosial luas,” tegas Direktur IBS PKMKK Achmad Muhlis, Minggu (29/3/2026).
Menurut Guru Besar UIN Madura itu, anak tumbuh di antara tiga ruang nilai, keluarga sebagai ruang afeksi, sekolah sebagai ruang formasi intelektual, dan masyarakat sebagai ruang praksis sosial. Ketika ketiganya berjalan tanpa koordinasi, anak berpotensi mengalami fragmentasi identitas.
Temu wali santri menjadi arena rekonsiliasi nilai, tempat seluruh aktor pendidikan menyepakati orientasi bersama. Dalam kerangka ini, digitalisasi komunikasi pendidikan melalui School Talk bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan upaya membangun social integration yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Al-Qur’an memberikan fondasi teologis atas tanggung jawab kolektif ini melalui firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang keluarga, tetapi tentang kewajiban menjaga generasi melalui sistem nilai yang konsisten. Ketika guru dan orang tua dipertemukan dalam satu visi, perintah tersebut menemukan bentuk praksisnya.
“Aplikasi School Talk menjadi instrumen modern yang memudahkan koordinasi amanah tersebut, memperpendek jarak komunikasi, dan memastikan bahwa nilai pendidikan tidak berhenti di ruang kelas,” ujarnya.
Secara spiritual, temu wali santri adalah perwujudan konsep amanah dan musyawarah. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Orang tua memimpin keluarga, guru memimpin proses pembelajaran, dan masyarakat memimpin lingkungan sosial. Ketika ketiga kepemimpinan ini terhubung melalui pertemuan fisik dan platform digital, terbentuklah kepemimpinan kolektif yang saling menguatkan.
“Teknologi dalam konteks ini bukan pengganti relasi manusia, melainkan penguat kontinuitas komunikasi dan pengawasan pendidikan.
Konsistensi komunikasi antara rumah dan sekolah sangat menentukan perkembangan emosional anak. Anak yang merasakan keselarasan nilai antara guru dan orang tua akan memiliki rasa aman, kepercayaan diri, dan stabilitas identitas yang lebih kuat. School Talk memungkinkan komunikasi yang lebih cepat, transparan, dan terarah, sehingga orang tua tidak lagi menjadi pengamat pasif, tetapi mitra aktif dalam proses pendidikan. Kehadiran teknologi ini mengubah peran orang tua dari sekadar penerima laporan menjadi partisipan dalam perjalanan belajar anak,” urainya.
Dimensi spiritual digitalisasi pendidikan juga menarik untuk direnungkan. Dalam Islam, setiap sarana yang memudahkan kebaikan termasuk bagian dari amal saleh. Ketika teknologi digunakan untuk memperkuat pendidikan, ia menjadi bagian dari ikhtiar kolektif menuju kemaslahatan. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa pun yang menunjukkan jalan kebaikan akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya. Dengan demikian, penggunaan aplikasi komunikasi pendidikan dapat dipahami sebagai bagian dari ekosistem amal kolektif yang memperluas jangkauan kebaikan.
Temu wali santri sekaligus sosialisasi School Talk menunjukkan bahwa pendidikan modern tidak dapat dilepaskan dari integrasi nilai spiritual dan teknologi. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses membangun manusia utuh yang siap menghadapi tantangan zaman. Dalam dunia yang semakin digital, komunikasi pendidikan yang lambat dan terputus dapat menjadi hambatan serius.
Oleh karena itu, tambah Muhlis, integrasi teknologi menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga kesinambungan pendidikan.
Pertemuan ini menegaskan bahwa pendidikan adalah kontrak sosial-spiritual yang terus diperbarui. Guru, orang tua, dan masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi bergerak dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Temu wali santri menjadi simbol kesepakatan kolektif bahwa masa depan anak adalah tanggung jawab bersama, sementara School Talk menjadi jembatan yang memastikan kolaborasi itu berlangsung setiap hari, bukan hanya pada saat pertemuan formal.
“Dengan demikian, pendidikan bergerak dari ruang pertemuan menuju ruang kehidupan dari silaturahmi menuju sinergi, dari komunikasi sesaat menuju kolaborasi berkelanjutan,” tukas Ketua Senat UIN Madura itu. (rul/ong)






