Istikamah Kiai Hodri Muzakki: Menjaga Nyala Dakwah di Usia Senja

Harmoni80 views

KABAR MADURA | Di sebuah sudut Desa Larangan Tokol, Pamekasan, langkah kaki Kiai Hodri Muzakki tak pernah benar-benar berhenti. Di usianya yang menginjak 61 tahun, ia masih setia berjalan dari satu majelis ke majelis lain, menyampaikan tausiyah, menyalakan semangat keagamaan, dan merawat tradisi dakwah di tengah masyarakat.

DEWI FITRIA, PAMEKASAN

Bagi Kiai Hodri, usia bukanlah batas untuk berbuat kebaikan. Justru di masa yang tak lagi muda, pengabdiannya kepada umat terasa semakin dalam. Ia dikenal sebagai tokoh masyarakat yang aktif berdakwah, khususnya di kalangan Muslimat dan Fatayat.

Undangan demi undangan datang, mulai dari acara pernikahan, peringatan Maulid Nabi, hingga halal bihalal dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Namun, perjalanan hidupnya tak selalu mudah. Kiai Hodri bahkan tidak mengetahui pasti tanggal kelahirannya. Ayahnya telah wafat sebelum ia lahir, sementara sang ibu meninggal saat ia masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Tanggal lahirnya kemudian ditetapkan oleh gurunya saat mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton. Penetapan tanggal lahir itu setelah Kiai Hodri mendapat informasi bahwa kelahirannya ditandai peristiwa syahidnya Kiai Jufri Marzuki, tokoh NU dan pengasuh Pesantren As-Syahidul Kabir Sumber Batu, Blumbungan, Pamekasan, yang ditikam hingga tewas pada tahun 1965 oleh pelaku suruhan PKI setelah mengisi pengajian di Kecamatan Konang, Bangkalan.

Baca Juga:  Merawat Tradisi, Menggerakkan Transformasi: NU sebagai Gerakan Pendidikan, Dakwah, dan Peradaban Humanis

“Dulu tidak ada akta kelahiran seperti sekarang. Saya juga tidak sempat bertanya kepada orang tua, karena mereka sudah meninggal sejak saya kecil,” tuturnya, Senin (30/03/2026).

Keterbatasan ekonomi juga sempat memaksanya menghentikan kuliah pada 1987. Meski demikian, semangatnya untuk mengabdi tak pernah padam. Ia pernah mengajar di berbagai sekolah dengan penghasilan yang sederhana. Hingga akhirnya, kondisi kesehatan membuatnya harus berhenti dari aktivitas tersebut.

Pengabdian Kiai Hodri tak berhenti di situ. Pada 1994, ia menggagas berdirinya Madrasah Ibtidaiyah (MI) pertama di Desa Larangan Tokol. Sekolah itu dibangun dengan penuh keterbatasan, termasuk dalam hal pembiayaan guru. Selain itu, ia juga aktif sebagai ketua takmir Masjid At-Taqwa, mengisi ceramah subuh yang ia namai “kuliah subuh”.

Beberapa tahun terakhir, kesehatannya mulai menurun. Ia pun mengurangi aktivitas mengajar. Namun, semangat berdakwah tetap ia jaga. Jika kondisi tubuh tak memungkinkan, ia memilih tetap mengisi tausiyah, meski harus mengurangi kegiatan lain.

Baca Juga:  Pernikahan Ra Mamak–Inayah Wahid Satukan Dua Poros Besar

Sejak 2011, Kiai Hodri dipercaya menjadi ketua Ranting Nahdlatul Ulama Desa Larangan Tokol. Jabatan itu telah ia emban selama tiga periode. Dalam setiap langkahnya, ia memegang satu prinsip yang diyakininya sebagai kunci kehidupan: istikamah.

“Siapa pun harus istikamah menjalankan tugas, baik tugas agama maupun pendidikan. Kunci kesuksesan adalah istikamah. Al-istiqomatu ‘ainul karomah, istikamah itu akan melahirkan kemuliaan,” ujarnya.

Bagi Kiai Hodri, hidup adalah tentang ketekunan dan kesabaran. Ia percaya, siapa pun yang mampu menjaga konsistensi dalam urusan dunia dan akhirat, serta bersabar dalam setiap ujian, pada akhirnya akan menemukan keberhasilan dan kebahagiaan.

Di tengah keterbatasan usia dan kondisi fisik, Kiai Hodri Muzakki terus berjalan, pelan namun pasti, menjaga nyala dakwah agar tetap hidup di tengah masyarakat. Sebab baginya, selama napas masih berhembus, pengabdian tak pernah mengenal kata usai. (waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *