KABAR MADURA | Isu kenaikan harga bahan pokok mulai meresahkan warga Kabupaten Bangkalan. Sejumlah masyarakat mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi itu dirasakan langsung oleh Jumilah (57), salah seorang pembeli di pasar tradisional terbesar di Kecamatan Geger, Bangkalan. Dia mengaku terkejut saat mendapati harga minyak goreng merek Minyak Kita mengalami kenaikan signifikan.
“Harganya naik, biasanya tidak sampai segitu. Kalau sebelumnya, saya biasanya dengan 20 ribu sudah bisa membawa pulang yang minyak ukuran satu liter,” ujarnya kepada Kabar Madura, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, harga minyak goreng merek Minyak Kita ukuran satu liter yang sebelumnya berkisar Rp20 ribu, kini mencapai Rp26 ribu. Akibatnya, dia terpaksa memilih membeli kemasan botol 800 mililiter yang seharga Rp20 ribu agar tetap sesuai dengan anggaran belanjanya.
Sementara Riskiyah, seorang pedagang kaki lima.(PKL) di Bangkalan, mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kilogram (kg).
“Saya kesulitan untuk membeli gas elpiji di sejumlah tempat, tapi tidak tahu kalau di daerah lain,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop Umdag) Bangkalan Moh. Rasuli menepis adanya kenaikan harga kebutuhan rumah tangga maupun kelangkaan gas elpiji. Dia menyebut, pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik.
Hasil sidak di Pasar Lemah Duwur Bangkalan, Senin (6/4/2026), menunjukkan bahwa harga dan pasokan kebutuhan rumah tangga, seperti minyak goreng dan gas elpiji 3 kg, masih dalam kondisi normal.
“Sesuai hasil sidak yang kami lakukan di Pasar Lemah Duwur tidak ditemukan perubahan harga. Stok dan harganya stabil,” tegasnya.
Dia menduga, persepsi kenaikan harga di masyarakat itu diakibatkan oleh isu yang beredar, sehingga memicu panic buying yang berdampak pada fluktuasi harga di lapangan. (fik/zul)





