Lesbumi Bedah Titik Koma Kesenian Sumenep

Berita17 views

KABAR MADURA | Lesbumi PCNU Sumenep menggelar Malem Salekoran bertema “Titik Koma Kesenian Sumenep” di lantai II Kantor PCNU Sumenep, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan rutin setiap tanggal 21 Hijriyah itu menjadi platform untuk membedah dinamika kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Sumenep.

Hadir Ketua PCNU Sumenep KH Md Widadi Rahim serta Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan Ibnu Hajar sebagai narasumber.

Kiai Widadi menilai perkembangan kesenian di Sumenep bergerak melalui komunitas yang berjalan secara organik.

“Kita melihat kesenian di Sumenep ini kadang masih berjalan di ruang masing-masing. Seni rupa punya jalannya sendiri, sastra sendiri, komunitas lain juga begitu. Padahal kalau dirangkul bersama, dampaknya akan lebih besar,” paparnya.

Berangkat dari perspektif Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Widadi memandang kesenian tidak hanya sarana ekspresi. Lebih dari itu, juga dapat menjadi media dakwah untuk mengusung nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

“Kesenian bagi NU menjadi panggung dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  Bung Karno dan Sejarahnya Menggema di Pendapa Keraton Sumenep

Disampaikan Ibnu Hajar, perkembangan dan dinamika kesenian dan kebudayaan di Sumenep tidak bisa lepaskan dari tradisi pesantren yang selama ini menjadi salah satu penyangga kehidupan budaya di Kota Keris.

“Kalau bicara kesenian Sumenep, kita tidak bisa memisahkannya dari pesantren. Banyak dinamika kebudayaan di daerah ini lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren,” kata Ibnu.

Ibnu juga menceritakan dibentuknya Lesbumi di Sumenep. Menurut dia, gerakan tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas Jaringan Seniman Sumenep (JSS) yang pada masanya menjadi ruang berkumpul para pegiat seni dan budaya.

“Dulu ada ruang yang mempertemukan para seniman, salah satunya JSS. Dari situ kemudian lahir semangat yang ikut menjadi bagian dari tumbuhnya Lesbumi di Sumenep,” jelasnya.

Dia menyinggung perjalanan Lesbumi pada masa kepemimpinan Ketua PCNU Sumenep Kiai Ilyasi Siradj. Lesbumi disebut pernah melahirkan buku antologi puisi Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan yang diterbitkan LKiS.

Sastrawan angkatan 1990-an itu mengajak Lesbumi Sumenep agar tidak berhenti pada forum kegiatan seremonial semata. Melainkan juga bergerak secara substantif.

Baca Juga:  Bulan Bung Karno 2026, Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Teladani Semangat Persatuan dan Nasionalisme

Dia mengibaratkan Lesbumi seperti seorang koki yang tinggal mengolah kembali warisan para seniman sebelumnya.

“Lesbumi ini seperti koki, bumbunya sudah disiapkan para pendahulu. Tinggal bagaimana diolah menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lesbumi PCNU Sumenep Moh Junaidi mengatakan, apa yang disampaikan dua narasumber di atas akan menjadi catatan penting. Terutama untuk merealisasikan berbagai program yang sudah dibentuk.

“Itu spirit dan perspektif yang harus kami terima sebagai catatan bagaimana Lesbumi akan berjalan ke depan,” ungkapnya.

Dia menegaskan, bahwa kesenian dan kebudayaan itu tidak melulu perkara tontonan semata. Melainkan juga menjadi ruang poduksi ide, gagasan, dan kekaryaan.

Karenanya, tugas Lesbumi, kata dia adalah memosisikan diri sebagai fasilitator. Tujuannya untuk turut mengintervensi ekosistem kesenian dan kebudayaan yang tidak hanya bertumpu pada panggung dan pertunjukan semata.

“Makanya, Malem Salekoran ini sebagai warisan dari kepengurusan Lesbumi sebelumnya tetap kami adopsi. Tertama sebagai bagian dari proses transfer pengetahun,” pungkasnya. (ara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *