Kebebasan

Falsafah Harian

Ahmad Sahidah : Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

Pernyataan Emha Ainun Najib tentang perumpamaan Jokowi seperti Fir’aun telah menimbulkan kericuhan di media sosial. Pendukung dan penentangnya beradu hujah di lini masa. Kalaupun akhirnya Cak Nun, panggilan akrab Emha, meminta maaf karena merasa kesambet (serangan makhluk halus), tetapi respons publik masih menghiasi dunia virtual. Apalagi, Guntur Romli menyoal gelaran ini sebagai cara ayah Sabrang untuk merendahkan dirinya sendiri. Tetapi, mengapa sebutan yang sama dilontarkan oleh pegiat Partai Solidaritas Indonesia tersebut pada Anies Baswedan tidak menyebabkan kritik banyak orang?

Lalu, apakah batas dari kebebasan bila hal yang serupa tidak diperlakukan sama? Belum lagi, pembakaran kitab suci Alqur’an oleh Rasmus Paludan, politikus sayap kanan Swedia yang menimbulkan kegusaran muslim di seluruh dunia. Anwar Ibrahim, perdana menteri Malaysia, mengeluarkan pernyataan resmi. Pembiaran seperti ini tentu tidak baik untuk mewujudkan dialog peradaban. Lagi-lagi ini mengulang peristiwa Charlie Hebdo. Sebagai wujud dari kebebasan berekspresi, Perancis tidak bisa menutup media ini karena dianggap menghina nabi, sebab sikap itu adalah hak yang harus dijaga untuk memartabatkan demokrasi.

Mengapa negara-negara Barat memberikan ruang kebebasan seperti ini? Dalam sejarahnya, negara-negara ini telah melalui sejarah panjang dalam menghadapi otoritarianisme. Kebebasan dipandang sebagai cara agar tidak ada kekuasaan yang sewenang-wenang yang bisa menindas warga atas nama kebenaran sepihak. Apakah negara ini juga akan menganut keyakinan yang sama setelah menjadikan Republik dan Demokrasi sebagai dasar-dasar politik? Anehnya, Cak Nun terpaksa harus menarik kembali kinayah (kiasan) Pharaoh terhadap sosok berkuasa dan Guntur tidak.

Belum usai kasus Fir’aun, Habib Kribo menyebut Anies Baswedan sebagai pelacur. Lalu, mengapa respons publik tidak semarah pada Cak Nun? Polarisasi ini jelas semakin menajamkan kubuan politik. Kata-kata yang tidak pantas itu hanya boleh disematkan pada seteru. Bila ia diletakkan pada orang yang dikagumi, label itu dianggap sebagai insinuasi. Politik sebagai arena yang memberikan ruang kebebasan tidak ubahnya tempat banyak orang untuk melepaskan geram. Tidak ada percakapan yang lebih sehat tentang kepemimpinan yang ideal itu sesungguhnya menjadi tanggung jawab khalayak.

Untuk tidak jatuh pada lubang yang sama, pendukung kedua belah tidak bisa membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Semestinya sokongan didasarkan pada pengertian politik secara asali. Bila Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Ridwan Kamil di sela-sela kegiatannya bisa duduk bersama, alangkah lancung bila penyokongnya bertengkar tidak karuan di media sosial. Politik yang berasal dari polis, kota, sejatinya hendak menghadirkan kehidupan warga yang sejahtera. Tentu, keadaan terakhir bisa dicapai apabila kebebasan dipahami secara utuh.

Secara filosofis, kebebasan adalah kunci dalam menjalani hidup. Ada banyak ide untuk menggambarkan hal ini, semisal mengapa Kehendak untuk Berkuasa menjadi pijakan untuk manusia yang tidak ingin terbelenggu oleh nilai dan norma yang berasal dari luar dirinya. Tetapi, apakah pikiran Nietzsche cocok dengan khalayak, tatkala itu hanya dimiliki oleh seorang adimanusia (übermensch)? Mungkinkan keyakinan penulis Those Spoke Zarathustra itu bisa dijangkau oleh orang awam, sehingga pernyataannya tidak dipahami oleh mereka secara harfiah?

Inilah tantangan masa kini tatkala dunia dilipat. Apa yang terjadi di belahan dunia yang jauh dari sini bisa mempengaruhi kondisi sosial politik. Revolusi Islam Iran 1970-an telah turut mewarnai perilaku muslim di seluruh dunia. Apalagi di era digital, peristiwa di Eropa bisa menyebar secara waktu nyata (real time), sehingga respons sekutu dan seteru bisa serta muncul di seantero negeri. Apa yang dilakukan Poludan akan membelah tanggapan banyak orang yang semakin memperkeras dua kelompok, pro dan kontra.

Untuk itu, kaum Muslim tidak bisa melakukan hal serupa untuk membalas penghinaan itu. Kesalahan tidak bisa dibalas dengan kesalahan. Langkah sebagian orang yang meletakkan bunga di depan kantor Kedutaan Besar Swedia di Turkiye adalah langkah simpatik agar kekerasan simbolik itu tidak dibalas dengan pembalasan serupa, apalagi pengrusakan dan penyerangan. Kekuatan itu adalah bukan tindakan meluahkan kemarahan, tetapi menahan diri untuk tidak melampiaskan kegusaran.

Kehendak itu bukan lagi berkuasa untuk menundukkan, tetapi meneladankan bahwa manusia berasal dari keinginan yang sama, yakni kesejahteraan untuk semua. Tanpa menghadirkan rasa empati pada yang berbeda, siapa pun telah gagal memahami kediriannya. Kepahaman itu berdiri di antara latar belakang yang berbeda, sehingga pemahaman tidak harus sama tentang otentisitas. Di sini, kebebasan adalah kemampuan untuk melawan keterbatasan diri sendiri, bukan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *