KABAR MADURA | Angka kematian ibu dan angka kematian bayi (AKI/AKB) di Sumenep masih tinggi. Dibanding tahun 2022, ada peningkatan di tahun 2023 lalu. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, terdapat 14 angka kematian ibu (AKI) dan ada 28 angka kematian bayi (AKB) di sepanjang 2023.
“Ini berdasarkan hasil laporan dari puskesmas dan rumah sakit,” ucap Plt Kepala Dinkes P2KB Sumenep Agustiono Sulasno melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Ellya Fardasah, Kamis (1/1/2024).
Pada tahun 2022, AKI sebanyak 12 orang, sedangkan AKB sebanyak 30 bayi. Jika dibandingkan pada tahun 2021 lalu khsusus AKI lebih rendah yakni hanya 17 orang, sementara AKB sebanyak 30 bayi. Kasusnya kematian ibu di Sumenep, juga terjadi pada usia di atas 35 tahun. Dengan rata-rata usia ibu 20-30 tahun.
Menrutnya, ke depan akan melakukan kegiatan pemberian makanan tambahan (PMT), agar kesehatan ibu hamil benar-benar terjaga. Harapnnya, pada tahun 2024 tidak ada AKI dan AKB, bahkan hingga saat ini masih belum ada sama sekali.
Penyebab utama terjadinya AKI dan AKB adalah karena pernikahan dini, ibu hamil kurang makanan bergizi, tidak mengikuti aturan dokter. Selain itu, karena bayi mengalami berat badan lahir rendah (BBLR), sesak nafas, cacat bawaan lahir, anemia ibu hamil atau kekurangan hemoglobin.
Untuk perempuan menikah usia dini, berisiko tinggi karena dari sisi kesehatan belum cukup matang. Risiko lainnya, kehamilan keempat. Juga jarak kelahiran yang terlalu dekat, kurang dari dua tahun.
Sementara itu, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep Sami’oeddin menegaskan, bahwa di tahun 2024, AKI dan AKB minimalnya lebih sedikit, bahkan bersyukur jikalau tidak ada.
“OPD terkait perlu memaksimalkan programnya, di dalam pengentasan AKI dan AKB, di 2024 ini, harus evaluasi agar tidak lagi meningkat,” kata politisi PKB itu.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





