Cerita Agung Peraih Juara MTQ Kategori Tafsir Bahasa Arab, Sempat Ingin Berhenti Menghafal Al-Quran 

Harmoni101 views

KABAR MADURA | Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Jawa Timur (Jatim) ke-31 menjadi perjalanan yang tidak hanya mencerminkan konsistensi, tetapi juga dedikasi yang semakin matang dalam mencintai dan menghayati Al-Qur’an. Hal itu dirasakan oleh Agung Maulana, salah satu kafilah Pamekasan pada ajang dua tahunan tersebut. Tahun ini merupakan keikutsertaannya yang ketiga di kategori Tafsir Bahasa Arab.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Di tengah persaingan yang sangat ketat, Agung kembali ke panggung MTQ dengan motivasi baru, semangat yang lebih besar, dan pengalaman yang lebih matang. Semua itu dia lakukan sebagai wujud pengabdian sekaligus usaha terbaik untuk mengharumkan nama daerahnya.

Tahun ini, dia berhasil meraih juara harapan 1 di bidang Tafsir Bahasa Arab. Bagi Agung, perjalanannya sebagai kafilah MTQ bukan sekadar pencapaian karier, melainkan juga proses spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Kategori Tafsir Bahasa Arab ini selain harus menghafal Al-Qur’an, juga harus memahami isinya dan menafsirkannya dalam bahasa Arab. Awal ikut MTQ tahun 2021, saya juara harapan 3. Tahun 2023 juara 3. Tahun ini alhamdulillah juara harapan 1,” terang pria kelahiran 2006 itu, Kamis (25/9/2025).

Baca Juga:  Haul ke-93, Kiai Rofi’i Baidhowi Kenang Keistikamahan RKH Abd. Hamid bin Maulana RKH Itsbat

Prestasi tersebut tentu tidak diraih dengan mudah. Di baliknya, ada perjuangan panjang dan tantangan yang harus dihadapi. Agung mulai memantapkan diri menjadi penghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku kelas VII SMP pada 2018. Berkat semangat yang tinggi, satu tahun kemudian dia berhasil menuntaskan hafalan 30 juz.

Motivasi menghafal Al-Qur’an datang dari salah satu program televisi saat bulan Ramadan. Saat itu, Agung terdorong untuk mulai menghafal dan mendapat dukungan penuh dari keluarga. Meski sempat merasa takut dan khawatir di tengah proses menghafal, namun dia berhasil melewatinya.

“Takutnya lebih kepada bagaimana kalau saya tidak bisa meneruskan hafalan. Apalagi saat sudah sampai 20 juz ke atas, banyak hafalan di juz-juz sebelumnya yang lupa. Di situ sempat berpikir, mau menambah hafalan lagi atau berhenti,” ungkap bungsu dari enam bersaudara itu.

Baca Juga:  Haul ke-93, Kiai Rofi’i Baidhowi Kenang Keistikamahan RKH Abd. Hamid bin Maulana RKH Itsbat

Perjalanan Agung menuju MTQ tingkat provinsi cukup panjang. Dia harus melewati beberapa tahap seleksi, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Di tingkat kabupaten, Agung bersaing dengan tujuh peserta lainnya, sebelum akhirnya terpilih untuk mewakili Pamekasan.

Meski sudah beberapa kali mengikuti MTQ, rasa gugup tetap dia rasakan setiap kali akan tampil. Agung menyadari kemampuan para kafilah dari daerah lain tidak bisa diremehkan. Namun, santri Pesantren Banyuanyar itu mampu meredakan rasa gugup dengan membaca tawassul, hingga akhirnya berhasil meraih juara harapan 1.

“Proses menghafal Al-Qur’an sama seperti metode pada umumnya, yaitu dengan sering muroja’ah. Semoga suatu saat saya bisa ke jenjang internasional untuk membawa nama Al-Qur’an,” tutupnya. (zul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *