KABAR MADURA | Keramahan tampak terlihat di wajah Eko Febriyanto saat Kabar Madura menyambangi kantornya, di Desa Laden, Kecamatan Pamekasan. Dari awal komunikasi melalui via online, pria berusia 32 tahun itu menyambut hangat saat diminta izin wawancara mengenai kiprahnya sebagai seniman Tari Topeng Dhâleng.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Karir Eko sebagai penari Topeng Dhâleng memang belum lama, yakni saat usianya berumur 26 tahun. Eko menyadari bahwa keberadaan tari topeng topeng ḍhâleng saat ini di ujung tanduk. Eksistensinya sebagai tari tradisional yang mengandung nilai budaya semakin redup seiring bertambahnya hiburan baru.
Oleh karena itu, pria kelahiran 1993 tersebut mengambil langkah untuk mempelajari Tari Topeng Dhâleng sekaligus menekuninya. Sebab, menurut Eko, selain memiliki keindahan, Tari Topeng Dhâleng perlu dilestarikan. Butuh waktu satu tahun baginya untuk bisa menguasai setiap gerakan dalam tarian tersebut.
“Basic saya sebenarnya Tari Dangga’. Makanya butuh waktu sampai satu tahun untuk bisa menguasai gerakan Tari Topeng Dhâleng ini. Awal aktif di topeng ḍhâleng tahun 2019,” jelasnya, Rabu (22/1/2025).
Ada kesulitan tersendiri bagi Eko untuk bisa menguasai Tari Topeng Dhâleng, salah satunya masalah tempo musik dan penyesuaian gerakan tari. Namun, anak pertama dari tiga bersaudara itu menikmati setiap proses yang dilalui. Hingga kini dirinya berhasil perform di setiap daerah.
Menurut Eko, ruang untuk melestarikan Tari Topeng Dhâleng cukup terbatas. Dari awal menggeluti tarian yang menekankan pada gerak tubuh itu, tidak banyak permintaan pentas. Kondisi seperti itulah yang membuat Tari Topeng Dhâleng semakin redup. Ditambah, saat ini tidak ada regenerasi muda yang senantiasa menggeluti topeng dalang.
Sebagai seniman tari topeng ḍhâleng, Eko berkomitmen untuk terus melestarikan tari tradisional tersebut, meski pendapatan secara finansial jauh dari kata cukup. Menurut bapak dua anak itu, perlu keterlibatan pemerintah dan masyarakat luas untuk tetap menjaga Tari Topeng Dhâleng tetap lestari. Seperti adanya wadah kesenian dari pemerintah, mulai dari acara perform dan lainnya.
“Menjadi penari Topeng Dhâleng harus mampu menguasai panggung. Karena setiap gerakan yang dilakonkan, itu tergantung dari dalangnya. Jadi gerakan harus sesuai dengan arahan yang diucapkan dalang,” ujar Eko, bersemangat saat menjelaskan komposisi Tari Topeng ḍhâleng. (waw)





