KABAR MADURA | Salah satu sebab rusaknya alat tangkap nelayan pantura Pamekasan dalam survei seismik 3D dari perusahaan migas Petronas dan Elnusa, disebut karena tidak adanya koordinasi dengan Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan.
Kata Kepala Diskan Pamekasan Abdul Fata, alat tangkap nelayan yang rusak berupa jaring ikan pada pelaksanaan survei lantaran tidak ada koordinasi lanjutan dengan pihaknya.
“Kami sudah koordinasi ke bawah, tapi kami masih belum tahu. Penyuluh di bawah masih koordinasi, jadi sedang proses,” ungkap Fata, Selasa (11/2/2025).
Untuk menangani hal itu, Diskan Pamekasan akan menginventarisasi alat tangkap ikan nelayan yang rusak tersebut.
Terlebih, sejak adanya aduan dari beberapa nelayan di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan pada 3 Februari 2025, belum satu pun nelayan yang menyetorkan data.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, meski tidak ada surat resmi dari pelaksana survei seismik tersebut, diganti atau tidaknya hanya bisa dipastikan di akhir Februari 2025.
“Jadi hasil inventarisasi itu kami akan dituntaskan di akhir Februari, bersamaan dengan eksekusi pihak ketiga, yakni PT Anugrah, informasinya akhir Februari, jadi data itu kami harapkan sudah selesai,” terangnya.
Sebelumnya, puluhan nelayan yang mengatasnamakan Forum Komunikasi Masyarakat Nelayan mengadu ke DPRD Pamekasan karena mengalami kerugian akibat kegiatan survei seismik yang dilakukan Petronas dan Elnusa di sepanjang pantai Desa Tamberu, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan.
Koordinator Komunikasi Masyarakat Nelayan Fauzi menyampaikan, terdapat 12 nelayan yang mengaku terdampak survei seismik tersebut.
Secara detail, total kehilangan jaring akibat lintasan kapal survei tersebut belum terhitung. Namun di antara 12 nelayan tersebut, ada yang mengaku kehilangan 20 hingga 30 jaring. Jika dikalkulasi dari harga setiap jaring sepanjang 60 meter, taksirannya senilai Rp5 juta.
“Di kapal yang melakukan survei itu ada kabel yang rangkap tiga, yang panjangnya sekitar 6 kilometer, jadi jaring yang hilang itu nyangkut di itu,” terangnya, Senin (3/2/2024)
Survei seismik tiga dimensi (3D) itu dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih rinci dan akurat mengenai struktur geologi bawah tanah, utamanya potensi cadangan minyak yang bisa dieksplorasi. Dalam prosesnya terdapat dua kali kegiatan, pra survei dan tahap survei. (rul/waw)





