KABAR MADURA | Bermula dari sebuah dusun kecil bernama Karang Tumpuk, Gresik, Emon Rifa’i membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk meraih cita-cita tinggi di dunia akademik.
MOH ROZIN, SUMENEP
Kini, pria kelahiran Gresik, 1 Mei 1993 itu telah menjadi dosen tetap di Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA Madura) dan tengah melanjutkan studi doktoralnya di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, program S3 Manajemen Rekayasa.
Perjalanan akademik Emon tidak instan. Dia menyelesaikan pendidikan dasar di dua sekolah sekaligus, yaitu SDN Weru II dan MI Darussa’adah Karang Tumpuk.
Semangat belajarnya terus menyala hingga lulus dari SMK Sunan Drajat, lalu melanjutkan studi S1 Teknik Industri di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dengan IPK 3,37, dan kemudian meraih gelar magister di kampus teknik ternama, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dengan IPK 3,47.
“Saya percaya bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tapi tempat membangun diri,” ujar Emon, mengenang masa-masa aktif organisasinya.
Dia pernah menjadi ketua umum UKM Fakultas Teknik, ketua Ikatan Mahasiswa Gresik (IMAGE), hingga asisten laboratorium sistem manufaktur di UTM. Jejak kepemimpinannya juga berlanjut saat dipercaya menjadi pembina organisasi mahasiswa setelah lulus.
Setelah menyelesaikan S2, Emon kembali mengabdi ke Madura. Dia sempat menjadi dosen kontrak di almamaternya, UTM, sebelum akhirnya resmi bergabung sebagai dosen tetap di Prodi Teknik Industri Uniba Madura sejak 2020. Di kampus ini, dia ikut membangun atmosfer akademik dari awal, seiring dengan berkembangnya institusi.
“Saya tumbuh bersama Uniba Madura. Dari awal merintis, hingga kini kami mulai bersaing di ranah akademik nasional,” tutur pria yang aktif sebagai peserta dan moderator di berbagai seminar internasional, termasuk IJCST Jakarta (2022) dan Manado (2023).
Kemampuan akademik Emon tidak hanya teruji di ruang kelas, dia juga aktif mengikuti berbagai pelatihan seperti PEKERTI dan pelatihan manajemen industri. Kecakapannya dalam aplikasi teknologi industri juga didukung dengan penguasaan Microsoft Office, SPSS, AutoCAD, hingga desain grafis.
Kini, sambil mengajar di Uniba Madura, Emon menempuh pendidikan S3 di ITN Malang sebagai bagian dari penguatan kapasitas dosen muda dalam riset dan rekayasa sistem.
“Tujuan saya sederhana: bagaimana membawa mahasiswa di Madura agar tidak merasa kecil. Kita bisa bersaing secara nasional bahkan global jika punya kemauan belajar,” pungkas Emon dengan penuh semangat. (waw)





