(KM/IST) APRESIATIF: Ketua Kopri PKC PMII Jawa Timur, Kholisatul Hasanah.
KABAR MADURA | Demonstrasi mahasiswa dalam menyikapi kondisi dan situasi negara akhir-akhir ini, di empat kabupaten di Madura yang berjalan tertib tanpa anarkisme mendapatkan acungan jempol dari Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri (Kopri) PKC PMII Jawa Timur, Kholisatul Hasanah.
Disampaikannya, aksi-aksi demonstrasi di Madura menjadi teladan. Sebab penyampaian aspirasi dengan cara damai justru lebih efektif didengar pemerintah dan publik.
Keberhasilan aksi demonstrasi tersebut membuktikan bahwa mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi dengan cara bermartabat tanpa harus menimbulkan kerusakan fasilitas publik maupun keresahan di masyarakat.
Ia juga menilai sikap pemerintah yang kooperatif dalam menerima aspirasi menjadi faktor penting terciptanya suasana kondusif.
Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat aksi di Madura berjalan tanpa gesekan. Di antaranya, kesadaran kolektif peserta, koordinasi lintas organisasi, serta komunikasi yang terjalin dengan aparat keamanan dan masyarakat. Selain itu, minimnya provokator juga disebut sebagai salah satu penentu utama.
“Kericuhan seringkali dipicu oleh oknum yang ingin memecah belah. Di Madura hal itu dapat dihindari,” paparnya, Senin (8/9/2025).
Lisa sapaannya menegaskan, aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa empat kabupaten di Madura, ada pelajaran berharga yang bisa ditarik, bahwa keberanian menyampaikan pendapat tidak harus diwujudkan dengan kekerasan. Dengan kedewasaan berdemonstrasi, aspirasi justru lebih didengar dan mendapat simpati dari publik maupun pemerintah.
“Kalau respon pemerintah tidak kooperatif, barulah sering muncul kekecewaan yang memicu ketegangan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menyampaikan, tanpa adanya anarkisme, pesan utama tetap jelas dan tidak tertutupi isu negatif. Media maupun masyarakat juga bisa fokus pada substansi tuntutan, bukan pada kericuhan yang terjadi.
Kepada mahasiswa di daerah lain, Kholisatul mengajak agar aksi di Madura dijadikan teladan. Menurutnya, demonstrasi adalah jalan terakhir ketika aspirasi tidak kunjung diindahkan. Karena itu, aksi harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, menjunjung etika, dan mengutamakan dialog substantif.
“Demonstrasi bukan hanya soal turun ke jalan, tetapi juga tentang membangun kesadaran publik dengan cara yang konstruktif,” tuturnya.
Ia juga menyoroti peran kader PMII, khususnya Kopri, yang disebut strategis dalam menjaga kondusivitas. Kehadiran kader perempuan dengan nilai etika dan kelembutan dinilai memberi warna tersendiri dalam meredam potensi gesekan.
Selain itu, Lisa meyakini aksi demonstrasi non anarkis lebih membuka peluang tuntutan mahasiswa untuk didengar. “Karena pemerintah tidak lagi sibuk menangani kerusuhan, melainkan bisa fokus pada substansi isu yang disampaikan,” pungkasnya. (rul/ong)





