KABAR MADURA | Kenaikan harga kebutuhan pokok dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai dikeluhkan masyarakat. Sejumlah warga di Kecamatan Tlanakan mengeluhkan harga telur ayam yang melonjak drastis tanpa adanya sosialisasi atau informasi sebelumnya.
Supiah, seorang warga asal Tlanakan, mengaku terkejut dengan perubahan harga telur di tingkat pengecer yang dinilai terlalu mendadak.
“Saya beli awalnya Rp25.000 sampai Rp26.000, sekarang sudah Rp28.000 per kilonya. Saya kira telur itu tidak naik, soalnya tidak ada informasi kenaikan harga, tiba-tiba saja langsung Rp28.000,” ujarnya dengan nada kecewa, Kamis (25/6/2026).
Kenaikan harga tersebut membuat kebingungan di kalangan para konsumen. Supiah mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah lonjakan harga tersebut merupakan kebijakan resmi dari pemerintah atau akibat permainan harga sepihak oleh para pengecer di pasar.
Tidak hanya itu, Supiah juga mengatakan bahwa para kalangan ibu ibu dibebani oleh harga pangan yang mencekik, warga Tlanakan juga harus menghadapi sulitnya mendapatkan BBM jenis pertalite. Supiah menceritakan pengalamannya yang harus kecewa setelah berkali kali datang ke stasiun pengisian bahan bakar Umum (SPBU) namun selalu kehabisan stok.
“Semuanya naik, pertalite juga susah. Saya balik dua kali ke pom bensin SPBU, habis,” tambahnya.
Naiknya harga pangan dan langkanya BBM bersubsidi membuat masyarakat berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun dinas terkait. Warga meminta adanya transparansi informasi mengenai harga komoditas utama serta pembenahan jalur distribusi BBM agar tidak terjadi kelangkaan yang menyengsarakan rakyat kecil.
“Saya berharap semuanya akan kembali baik seperti semula, agar kami bisa menghitung pengeluaran seperti biasa,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Abdurrahman Nahrul, saat dikonfirmasi Kabar Madura belum bisa memberi keterangan dengan detail terkait hal itu. Alasannya masih harus mempelajari data yang telah dirangkum.
“Datanya akan diperiksa besok, biar dilihat dari harga hasil pantauan di lapangan,” ujar Nahrul saat dikonfirmasi. (km96/waw)





