“Nakal itu ada saatnya, dan berhentilah pada waktunya, semua orang ada jalannya. Tapi tidak semua jalan ada orangnya. Karena jalan diberikan kepada orang yang mau dan siap,” demikian kutipan inspiratif dari Prof. Achsanul Qosasi yang begitu membekas dalam benak Syafwan Wahyudi, eks pemuda nakal yang kini menjelma menjadi figur positif di kalangan pemuda Sumenep.
MOH RAZIN, SUMENEP
Nama Syafwan Wahyudi mungkin tidak asing di telinga mereka yang mengikuti geliat pergerakan anak muda Sumenep, khususnya di sektor usaha dan komunitas. Saat ini dia sebagai Exco KUP Pojur. Tapi siapa sangka, pria kelahiran awal 80-an ini punya masa lalu yang kelam, dunia yang disebutnya sendiri sebagai “gelap”.
Sejak usia remaja, Syafwan sudah akrab dengan kerasnya kehidupan. Saat duduk di bangku SMA pada tahun 2000, dia mulai merintis usaha konter HP, sebuah bisnis yang tergolong maju kala itu di tengah keterbatasan informasi dan teknologi. Namun, bersamaan dengan usaha itu, Syafwan juga berkecimpung di komunitas balap motor jalanan, dunia yang penuh risiko dan stigma negatif.
“Dulu saya hidup di dunia yang kurang positiflah, balap liar, sering berurusan dengan hal-hal yang tidak baik. Tapi saya bersyukur, saya bertemu banyak orang yang membuka mata saya,” ujarnya dengan nada reflektif.
Selain itu, perubahan itu juga lahir dari doa orang tua. Meski terbilang berperilaku negatif, dia tidak pernah sedikit pun pernah membangkang kepada orang tuanya, terutama kepada ibunda tercintanya.
Namun di balik semua itu, dia juga bertekad untuk tidak menipu, tidak merugikan orang lain, dan selalu berusaha bertanggung jawab menjadi nilai yang dia pegang teguh.
“Intinya dalam hidup itu jangan ada niat untuk menipu, merugikan, atau berbuat jahat kepada orang lain,” kata Mas Udik, sapaan akrab Syafwan Wahyudi.
Salah satu tonggak perubahan besar dalam hidupnya adalah ketika dia memprakarsai komunitas DRT Sumenep. Meski lahir dari hobi balapan dan dunia liar lainnya, Udik berhasil menggeser orientasi komunitas tersebut menjadi lebih terarah dan terorganisir.
Tidak hanya berhenti di dunia otomotif, dia kemudian masuk ke lingkup organisasi produktif seperti KUP Pojur, yang kini banyak memberikan pengalaman dan jalan spiritualitas.
“Saya sering bilang ke temen-temen saya, kamu nakalnya belum seberapa dibanding saya. Tapi silakan saja nakal, asal tahu waktu dan bisa mengendalikan diri,” tuturnya sambil tersenyum.
Transformasi Udik tidak terjadi dalam semalam. Dia menyebut prosesnya penuh jatuh-bangun, tantangan, bahkan cibiran. Tapi dirinya percaya bahwa setiap orang diberikan jalan, asalkan mau dan siap menempuhnya.
“Nakal itu ada saatnya, dan berhentilah pada waktunya. Hidup itu tidak harus sempurna, tapi harus bermanfaat. Semoga maslahat diberikan kepada kita sesuai jalan yang kita mau dan Tuhan kehendaki,” ucapnya mengutip kembali pesan Prof. Achsanul.
Kini, sebagai Exco KUP Pojur, Sofwan terus mendorong para pemuda agar tidak sekadar hidup “ikut arus”, tapi mampu menciptakan arus perubahan. Baginya, jalan gelap masa lalu bukanlah aib, tapi batu loncatan menuju terang yang lebih bermanfaat.
Meski terbilang gagal dalam dunia pendidikan, dia terus belajar terhadap kehidupan. Sehingga dia tetap meminta siapapun untuk berproses tentu dengan pendidikan yang tinggi.
“Jangan ikuti jejak saya, sekolah yang tinggi! itu lebih mudah menuju kesuksesan,” pungkasnya. (waw)





