KABAR MADURA | “Antara Tradisi dan Transisi: Agama sebagai Penjaga Nilai Moral di Tengah Perubahan Sosial Madura”. Tema itu menjadi tema kajian rutin yang dilaksanakan oleh Organisasi Daerah (Orda) Jong Madura Korpus Wilayah III Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN Khas) Jember.
Tema tersebut sengaja dituangkan dalam kajian sebagai upaya menjaga banyaknya tradisi yang ada di Madura supaya tetap terjaga dengan baik di tengah tantangan perkembangan zaman di tengah kultur-sosial Madura.
Ketua Jong Madura Korpus III Nur Hasan Busri menyampaikan, kajian tersebut merupakan bagian dari program kerja rutin Jong Madura Korpus III yang bertujuan membangun ruang dialog dan refleksi kritis di kalangan mahasiswa Madura terhadap dinamika sosial-budaya yang terus berkembang.
“Di tengah cepatnya arus modernisasi, penting bagi generasi muda untuk memahami ulang peran tradisi dan agama sebagai fondasi moral dan identitas sosial,” jelasnya.
Menurutnya, kajian itu bukan hanya sekadar forum diskusi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan jati diri mahasiswa Madura di perantauan.
“Kami ingin Jong Madura menjadi rumah intelektual sekaligus penjaga kultur-budaya dam sosial Madura. Lewat kajian ini, kita belajar bahwa menjadi modern bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menafsirkan ulang nilai-nilai lama agar tetap relevan dengan konteks kekinian,” paparnya.
Diskusi berlangsung hangat dengan narasumber yang interaktif. Setelah pemaparan materi, sesi diskusi dibuka dan diisi dengan berbagai tanggapan serta pertanyaan dari peserta. Hal itu menunjukkan semangat dan kepedulian terhadap isu sosial-budaya.
“Ini menunjukkan komitmen kita dalam menjaga keseimbangan antara warisan budaya, nilai keislaman, dan tantangan zaman. Kami ingin menjaga derasnya arus perubahan sosial, agama dan budaya lokal,” imbuhnya.
Narasumber utama dalam kajian ini, Nurul Hidayat, akademisi dan senior Jong Madura. Menurutnya, tradisi Madura tidak bisa hanya dilihat dari permukaan. Ia menyoroti adanya kecenderungan masyarakat luar menstigmakan budaya Madura.
“Secara eksternal, tradisi Madura sering dipandang negatif, misalnya praktik carok. Padahal dalam perspektif masyarakat Madura, carok adalah simbol sekaligus ekspresi nasionalisme bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan penjagaan atas harga diri serta martabat keluarga,” jelasnya.
Di sisi lain, dia menegaskan, tidak semua nilai dalam tradisi harus dilestarikan secara utuh. Perubahan sosial menuntut adanya penyaringan nilai yang sejalan dengan kemajuan dan ajaran agama.
“Di sinilah Jong Madura menjadi contoh positif,” katanya.
Jong Madura dituntut untuk terus memberikan sumbangsih terhadap nilai-nilai hingga tradisi di Madura.
“Di Jong Madura sendiri, kita melihat bentuk internalisasi nilai-nilai tradisi yang lebih konstruktif, seperti menjunjung tinggi persaudaraan, solidaritas antarkader, serta dorongan untuk maju melalui pendekatan akademik yang kritis. Ini adalah bentuk evolusi budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kebutuhan zaman,” tandasnya. (ong/zul)





