Kejujuran

Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

Dulu, saya menonton The Notebook, film yang menceritakan hubungan sepasang kekasih yang harus dipisahkan karena penolakan orang tua. Noah Calhoun (Ryan Gosling) dan Allie Hamilton (Rachel McAdams) memulai hubungan batin dari perjumpaan pertama di sebuah karnaval. Dari sini, percintaan berlanjut di musim panas dengan hangat. Wujud dari kata hati adalah sumber kejujuran. Siapa pun yang mendapatkannya akan menemukan kebahagiaan dengan mewujudkannya menjadi kenyataan.

Tetapi, Noah kecewa karena sempat mendengar dari sang ibu Allie, Ann (Joan Allen) bahwa dirinya adalah sampah. Meskipun Allie mengejarnya, Noah tetap lari dan meninggalkan rumah sang kekasih. Keesokan mereka putus. Emak Allie tentu jujur dengan keadaan gacoan putrinya. Ia mengatakan apa adanya dan ini adalah kata lain dari kejujuran bukan? Lalu, apakah cinta itu bentuk dari penyimpangan karena menolak kenyataan? Apa sesungguhnya jujur itu?

Tentu jujur tidak hanya terkait dengan perasaan, tetapi juga dengan hal lain dalam keseharian, seperti perilaku, perkataan, pengetahuan, dan sikap. Apa yang kita lakukan dan katakan tidak didasarkan pada kebohongan. Demikian juga, dengan berpijak pada pengetahuan, kita akan menunjukkan kebenaran dan keberpihakan. Namun demikian, ketidaktahuan tidak bisa dibungkus dengan helah, justru dengan komunikasi, masing-masing bisa membangun kebenaran bersama.

Melalui penjelasan tentang kejujuran (honesty), Cory Edmund Endrulat dalam Nature’s Radical Honesty: A Practical Application of Naturosophy (2022) menyatakan bahwa kejujuran adalah ekspresi kita akan kebenaran yang kita ketahui saat ini. Ini adalah aturan sederhana yang meskipun membutuhkan pengetahuan, seperti halnya ungkapan apa pun, itu tidak membutuhkan semua pengetahuan untuk diungkapkan. Karena jika jujur pada diri kita sendiri, kita akan menyadari bahwa kita tidak dapat mengetahui segalanya, dan karena itu harus jujur ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak kita ketahui.

Lalu, bila tidak tahu segalanya, maka seeloknya kita membangun komunikasi efektif dengan cermat, seperti disarankan oleh Jürgen Habermas. Ini akan terjadi bila masing-masing menunda idealisme dan menempatkan diri secara setara. Lalu, setiap peserta akan berusaha untuk mencapai konsensus minimal dari percakapan. Sejatinya, ini tidak jauh berbeda dengan hermeneutika Gadamer bahwa setiap orang senantiasa melihat sesuatu dari prasangka (vorurteil). Atas dasar inilah, perbincangan digiring ke isu bersama (die sache) agar produktif.

Membangun perbincangan yang dilandasi kejujuran mungkin belum terbiasa di kalangan kita, sebab ruang publik, seperti diskusi di televisi dan pembahasan banyak di media sosial masih berkutat pada sentimen pada kubu dan kelompok. Semestinya, kejujuran menuntun siapapun untuk adil sejak dalam pikiran. Kecenderungan pengutuban pada afiliasi politik betul-betul mematikan sehat. Malah, karena didorong ketidaksukaan, meme yang dibuat dari kebohongan diviralkan secara sengaja sambil berlindung di balik tanda tanya (?) Apa betul? Padahal, ia hanya ingin menunjukkan bahwa seseorang yang tidak didukung itu digambarkan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Sesungguhnya, media publik bisa menjadi ruang komunikasi yang mencerdaskan dan mencerahkan apabila model “taking both sides” dipraktikkan dengan cermat. Moderator memiliki wewenang penuh untuk mengatur lalu lintas perbahasan. Masing-masing pihak harus tunduk pada aturan dengan mencukupkan waktu yang diberikan oleh penguasa. Dengan demikian, khalayak yang akan menilai kemasukakalan dan kebernasan dari sebuah gagasan. Secara langsung, orang ramai juga belajar bagaimana berpikir dan menghargai pendapat orang lain.

Baca Juga:  Keberaksaraan

Jika seseorang jujur dengan dirinya, maka ia dengan berlapang dada terhadap kebenaran yang diusung oleh mitra wicara. Kadang kebenaran dan kejujuran saling tindan tindih, sehingga sesuatu yang disampaikan ada adanya bisa terasa pahit. Namun demikian, kejujuran itu sendiri bisa disampaikan secara arif agar apa yang disampaikan bisa diterima oleh khalayak atau orang yang diajak bicara. Namun, jujur yang sebenarnya adalah tidak difilsafatkan (dibicarakan), tetapi dilakukan, tegas Epictetus. Maukan kita?

Mau tidak mau, kejujuran akan terpancar dari apa yang kita pakai, makan, dan gunakan dalam keseharian. Bila apa yang dikatakan tidak tercermin dalam perbuatan, ia sejatinya telah menulis saya adalah pembohong di dahi dan orang lain akan menarik diri untuk menerima apa yang hendak disampaikan. Kalaupun masih berada di dekatnya, mungkin orang itu hanya hendak menjaga etiket dan berharap orang yang tidak jujur itu segera berhambus. Inilah hukuman yang sebenarnya yang pedih bagi orang yang tidak jujur, kehadirannya tidak dikehendaki oleh manusia. (*)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *