Oleh: Ahmad Sahidah*)
Kami merayakan hari kemerdekaan Republika Indonesia ke-80 di halaman kampus bersama seluruh warga pondok pesantren Nurul Jadid. Sebelum bermula, saya ngobrol ringan dengan Pak Holil, guru SMP, yang juga seorang hipnoterapis. Ia bercerita tentang mengapa banyak orang mengalami keterasingan, meskipun secara kasat mata mereka telah berhasil dalam kehidupan, seperti karir yang cemerlang dan mata pencarian yang mapan.
Ketika telah merdeka dari banyak belenggu, merekamerasa menghadapi sesuatu yang mengganggu. Dengan pendapatan yang cukup dan pekerjaan yang mentereng, banyak individu belum menemukan dirinya. Mereka mungkin merdeka (independence) sebagai pribadi, namun belum merasa sepenuhnya bebas (freedom). Mereka seakan-akan bebas memilih karir atau mengungkapkan pandangannya, tetapi masih tidak nyaman dengan faktor internal seperti ketakutan, kecemasan, atau hasrat tak sadar yang menghalangi untuk hidup secara autentik.
Sepertinya, perayaan kemerdekaan memang perlu ditafsirkan kembali sebagai persoalan personal dan bersama. Secara de facto dan de jure, kita telah merdeka dari penjajahan. Namun, kemerdekaan ini justru mendatangkan kebebasan, yang disebut oleh Jean Paul Sartre sebagai kutukan. Artinya, apa yang dibuat oleh kita merupakan sesuatu yang ditanggung oleh pelaku dengan segala konsekuensinya.
Dalam pandangan yang berbeda, Isaiah Berlin menyodorkan kebebasan from dan to sebagai cara kita menimbang kembali, apakah kita hanya sekadar bisa melepaskan diri dari penindasan, atau lebih jauh kita perlu memikirkan untuk apa kebebasan yang kita raih. Di sinilah, justru ada tantangan baru dalam menjalani keseharian. Dalam keterulangan yang kita lakukan malah acapkali terperangkap pada kebosanan dan kebingungan.
Kala sendirian di rumah di hari libur Jum’at, sementara istri mengajar bahasa Jawa di sekolah dan dua anak belajar di SMP dan SMA, saya sebenarnya bebas untuk melakukan apa saja di rumah, seperti mendengar macopat Madura yang disiarkan oleh Brama FM Kraksaan. Sebab, tiga anggota keluarga tersebut tidak bisa menikmati seni sehingga saya dapat menikmatinya ketika rumah kosong dengan volume yang mengisi seluruh ruangan kediaman.
Dalam kesendirian, sunyi memang bisa ditepis dengan pelbagai bunyi dari banyak sumber, seperti radio, televisi, dan gawai. Tetapi, lagi-lagi apa yang kita cari dalam keleluasaan seperti ini? Pengetahuan, penghiburan, ataupengosongan agar satori datang adalah pilihan. Dalam tradisi Zen Buddhisme Jepang, keadaan pencerahan(satori) itu didapat melalui penyingkapan, bukan huruf-huruf.
Sementelah, lema merdeka yang dirujuk pada asal Sanskerta adalah maharddhika, berarti orang yang berkuasa, kaya, atau mampu. Namun, dalam perkembangan bahasa Melayu dan Indonesia, kata ini digunakan untuk menunjukkan bebas, tidak terjajah, atau berdaulat. Dari sini, kita masih bisa meraih makna asalbahwa dengan kebebasan itu kita bisa memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kesejahteraan. Artinya, bila ketiga hal tersebut terakhir hilang, laungan merdeka bisa digugat.
Lebih dalam lagi, ketiga hal di atas akan menantang manusia untuk mengada sesuai dengan kehidupan yang autentik dan pada gilirannya menuju kekosongan (suwung). Bagaimanapun, hasrat terhadap duniawi tersebut hanya memerangkap manusia pada kesia-siaan dan kekosongan. Tanpa kritik pada hasrat, manusia bisa terjerembab pada keadaan gerowong, karena nafsu itu lahir dari ketidaktahuan dan ketidaksadaran.
Dengan kemampuan membedakan kemerdekaan (independence) dan kebebasan (freedom), setiap individu pada akhirnya bisa menempatkan dirinya dalam pusaran kata-kata simbolik terkait perayaan kemerdekaan yang berseliweran di lini masa media sosial. Karena jargon itu berada di dunia maya, kehadirannya telah dipoles untuk tampil molek di hadapan orang lain. Ini jelas mendudukkan dirinya sebagai budak dari penglihatan orang lain.Betapa oksimoron bila kemerdekaan dinyatakan sebagai wujud dari ketidakberdayaan untuk dilihat sebagai sosok yang tidak autentik.
Akhirnya, independensi yang diserap dalam kamus kita telah digeser pada makna kemandirian, yang juga menjadi bagian dari arti kemerdekaan. Dengan tidak bergantung pada orang lain, kita bisa menjadi diri sendiri. Inilah wujud dari kemerdekaan hakiki. Hanya orang yang kembali pada dirinya tidak akan dijajah oleh mata orang lain. Kita bukan narapidana dari penjaga menara penjara, yang seringkali mendikte apa yang perlu dijalani dalam keseharian, meskipun kita harus melawan kerumunan.
*) Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid.



