KABAR MADURA | Pesantren tak lagi sekadar tempat mengaji kitab. IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) membuktikan diri dengan melangkah maju melalui kolaborasi bersama Universitas Negeri Malang (UM) dalam bidang Riset Eksperimen Integratif ilmu agama dan sains.
Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si. saat melakukan silaturrahim, Selasa (9/9/2025), berkomitmen untuk berkolaborasi dengan IBS PKMKK dalam riset eksperimen dan publikasi. Komitmen ini disampaikan di Lobi Gedung Utama IBS PKMKK.
Prof. Taufiq merupakan sosok akademisi sekaligus penulis produktif memberikan apresiasi kepada IBS PKMKK karena menjadi Lembaga Pendidikan Islam yang menjadi pelopor pengembangan literasi dan integrasi keilmuan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Taufiq menegaskan komitmennya untuk melatih santri IBS PKMKK menulis karya ilmiah bertaraf Nasional hingga Internasional. IBS PKMKK menginisiasi 2 program untuk menyambut komitmen tersebut, yaitu:
✨ One Term One Research One Publication – setiap santri didorong menghasilkan riset dan publikasi ilmiah per semester.
✨ One Experiment One Chapter – setiap eksperimen sains akan dituangkan menjadi bab tulisan ilmiah.
“Santri pesantren juga bisa bersaing di panggung akademik global, asal diberi kesempatan dan dibimbing dengan serius,” tegas Prof. Taufiq.
Tak hanya itu, ia juga meminta Dr. Agus Budiono, M.Pd. untuk menyusun RPP Integrasi Sains dan Agama, sehingga pembelajaran di IBS PKMKK semakin kontekstual, relevan, dan berorientasi riset.
Direktur Utama IBS PKMKK, Dr. KH. Achmad Muhlis, M.A., menyambut hangat terobosan ini. Ia menilai, program kolaborasi tersebut akan menjadi titik awal lahirnya tradisi baru di pesantren: tradisi riset dan publikasi ilmiah.
“Gelombang pertama santri akan segera kami seleksi. Targetnya, mereka tidak hanya rajin mengaji, tapi juga produktif menulis dan meneliti. Ini langkah nyata pesantren untuk ikut melahirkan generasi yang alim sekaligus ilmuwan,” ungkap KH. Muhlis.
Kolaborasi IBS PKMKK dengan Universitas Negeri Malang ini menjadi bukti bahwa pesantren mampu berdialog dengan dunia akademik modern, tanpa kehilangan jati diri keagamaan. Integrasi agama dan sains pun kian nyata: santri berkitab, sekaligus berlaboratorium. (rul/zul)






