Maqāṣid Pedagogis: Konsep Pembentukan Struktur Sosial Peduli Lingkungan

Opini72 views

Oleh: Achmad Muhlis*)

Kerusakan lingkungan dewasa ini semakinmengkhawatirkan. Deforestasi, ekstraksi sumber daya alamsecara berlebihan, pembangunan yang tidak beretika ekologis, serta alih fungsi lahan tanpa kajian mendalam telahmemperparah kerentanan ekosistem di berbagai wilayah. Bencana ekologis seperti banjir besar, kekeringan ekstrem, tanahlongsor, pencemaran udara, hingga krisis keanekaragamanhayati tidak lagi dapat dipandang sebagai fenomena alam yang terjadi secara alami, melainkan akibat langsung ulah tanganmanusia. Hal ini sejalan dengan pandangan ilmuwan lingkunganyang menegaskan bahwa sebagian besar kerusakan ekologismodern berakar pada pola perilaku manusia, keputusan politik, dan struktur sosial yang tidak berkelanjutan.

Dalam konteks Indonesia, berbagai penelitian mencatatketerlibatan banyak aktor, termasuk elite ekonomi dan politisi, dalam proses perusakan lingkungan, izin tambang yang tidaktransparan, pembabatan hutan demi keuntungan jangka pendek, lemahnya regulasi, hingga korupsi dalam tata kelola sumberdaya alam. Para sosiolog lingkungan, menjelaskan bahwamasyarakat modern telah memasuki risk society, di mana keputusan ekonomi dan politik justru menciptakan risikoekologis yang mengancam masa depan generasi muda. Dalam perspektif ini, kerusakan lingkungan bukan sekadar kegagalanteknis, melainkan kegagalan moral, sosial, dan pendidikan.

Para ahli psikologi lingkungan, menegaskan bahwaperilaku destruktif terhadap lingkungan tidak lahir tiba-tiba, iaterbentuk melalui proses panjang yang terkait dengan nilai, persepsi risiko, kontrol diri, dan orientasi jangka panjang. Di sinilah pendidikan memainkan peran fundamental. Model pendidikan yang terlalu menekankan capaian kognitif tanpa menumbuhkan etika lingkungan, empati ekologis, kesadaranspiritual, dan tanggung jawab sosial akan menghasilkan generasiyang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral.

Sebaliknya, pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesadaran sosialterbukti memiliki pengaruh besar dalam mengurangi perilakumerusak lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan teorihumanistik yang menekankan pentingnya aktualisasi diri yang selaras dengan nilai-nilai kebaikan dan keberlanjutan sosial.

Dalam tradisi Islam, konsep maqāṣid al-sharī‘ahmemberikan kerangka nilai untuk menjaga lima aspekfundamental kehidupan, yakni agama (dīn), jiwa (nafs), akal(aql), identitas (nasl), dan harta (māl). Jika konsep inidiadaptasikan dalam konteks pendidikan, maka akan melahirkanmaqāṣid pedagogis, yakni paradigma pendidikan yang menempatkan kemaslahatan (maslahah), keberlanjutan, dan keseimbangan manusia dan alam sebagai tujuan utama.

​Maqāṣid pedagogis menegaskan bahwa, pendidikan harusmenjaga akal melalui pengembangan nalar kritis terhadappraktik perusakan lingkungan, Pendidikan harus menjaga jiwadengan menumbuhkan empati ekologis, kesehatan mental, dan kontrol perilaku destruktif, Pendidikan harus menjaga harta dan keberlanjutan hidup, sehingga peserta didik memahami bahwakesejahteraan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarianlingkungan, Pendidikan harus menjaga identitas, termasukmemastikan bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang, Pendidikan harus menjaga agama dan moralitas, yang salah satuprinsip intinya adalah menghindari kerusakan (fasād) di mukabumi.

Konsep maqāṣid pedagogis ini, memperluas fungsipendidikan dari sekadar transfer pengetahuan menjadi proses pembentukan struktur sosial yang etis dan kepribadian pesertadidik yang berkelanjutan.

Dari perspektif sosiologi kritis, bahwa struktur sosial tidaknetral, akan membentuk habitus, cara berpikir, dan pola tindakanindividu. Ketika struktur sosial didominasi oleh kepentinganpolitik dan ekonomi jangka pendek, masyarakat cenderungterbiasa dengan perilaku eksploitatif terhadap alam.

Politisi yang memiliki otoritas dalam perumusan kebijakansering menjadi aktor penentu arah pembangunan. Jika orientasimereka tidak dibangun oleh kesadaran ekologis dan etika sosial, keputusan politik akan menghasilkan, kebijakan pro-ekstraksi,perizinan yang merusak lingkungan, peminggiran masyarakatlokal, dan pengabaian prinsip keberlanjutan.

Di sinilah pentingnya pendidikan berbasis maqāṣidpedagogis, karena ia dapat membentuk generasi politisi, birokrat, akademisi, dan masyarakat sipil yang memiliki nalarekologis, integritas moral, dan orientasi kemaslahatan publik.

Baca Juga:  Gaungkan Peduli Lingkungan, Manpala Naviri MAN 2 Pamekasan Gelar Kampanye Digital dan Bagi-Bagi Tote Bag

​Psikologi moral modern, menunjukkan bahwa moralitasmanusia berkembang melalui proses internalisasi nilai, pengalaman sosial, dan pembiasaan. Misalnya, kerusakanlingkungan yang dilakukan elit politik maupun masyarakatawam menunjukkan adanya masalah moralitas sosial yang melemah, seperti rendahnya integritas, hilangnya empatiekologis, orientasi kepentingan jangka pendek, dan pengingkaran terhadap tanggung jawab lintas-generasi.

Maqāṣid pedagogis menjadi alternatif untuk menjawabkrisis ini dengan menanamkan nilai taqwā, amanah, keseimbangan (mīzān), dan larangan melakukan fasād. Prinsipini relevan untuk membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak ekologis.

Pendidikan saat ini sering terjebak dalam logikateknokratis, mengejar angka, ranking, dan output ekonomi. Sementara itu, kerusakan lingkungan jelas menunjukkan bahwapendidikan telah gagal membentuk individu yang mampumenjaga bumi. Berbagai ahli pendidikan lingkunganmenyatakan bahwa kejatuhan ekologis adalah kegagalanpendidikan.

​Maqāṣid pedagogis hadir untuk mengisi kekosongantersebut dengan mengintegrasikan kesadaran spiritual dan ekologis, membangun nalar kritis terhadap kebijakan destruktif,menghubungkan pendidikan dengan struktur sosial, sertamembangun identitas peserta didik sebagai penjaga bumi(khalifah fil al-ardh).

​Konsep maqāṣid pedagogis ini, akan menjadi paradigmapendidikan untuk mencetak generasi dengan integritas ekologis, mendorong transformasi sosial yang lebih adil dan berkelanjutan, membangun nalar kritis peserta didik terhadappraktik destruktif, mengembalikan tujuan pendidikan kepadakemaslahatan manusia dan alam.

Dengan demikian, kajian ini tidak hanya relevan secaraakademik, tetapi juga mendesak secara etis dan ekologis, mengingat bumi kini berada dalam kondisi krisis yang membutuhkan kesadaran lintas-disiplin dan kehadiranparadigma pendidikan baru, dalam membentuk generasi yang mampu mengoreksi kebijakan publik yang merusak lingkungan, mengubah struktur sosial yang sarat kepentingan politik-ekonomi eksploitatif, dan pembentukan kepribadian pro-lingkungan.

*) Ketua SENAT UIN Madura/Direktur Utama IBS PKMKK.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *