KABAR MADURA | Masa potensi puncak hujan tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dibandingkan musim sebelumnya. Jika tahun lalu terjadi pada Desember hingga Januari, kali ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan berlangsung sejak November hingga Februari 2026.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan intensitas cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk di Pamekasan. Cuaca ekstrem itu dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, maupun angin kencang.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Pengendalian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Zainal Mistuki mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan pola cuaca yang terjadi tahun ini.
“Masyarakat diimbau berhati-hati, karena potensi cuaca ekstrem bisa terjadi lebih lama dari biasanya,” ujarnya kepada Kabar Madura, Selasa (12/11/2025).
Namun di sisi lain, Zainal mengungkapkan, kuota Desa Tangguh Bencana (Destana) di Pamekasan tahun ini mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh terbatasnya anggaran dari pemerintah provinsi.
Jika tahun lalu terdapat dua desa yang mendapat program tersebut, maka tahun ini hanya satu wilayah yang memperoleh, yakni Kelurahan Kowel. Bahkan, untuk program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sama sekali tidak mendapat alokasi dari pemerintah provinsi.
Sebagai langkah alternatif, BPBD Pamekasan tetap melaksanakan kegiatan sosialisasi dan edukasi penanggulangan bencana bagi masyarakat maupun sekolah, meskipun tidak dalam bentuk kegiatan formal.
“Hingga saat ini total ada 17 desa yang sudah masuk dalam program Destana. Mudah-mudahan tahun depan anggaran kembali normal sehingga pengembangannya bisa lebih banyak, baik untuk program SPAB maupun Destana,” jelasnya. (nur/zul





