KABAR MADURA | Di tahun politik, perlu adanya pendidikan politik kepada kawula muda. Hal itu disampaikan oleh praktisi politik asal Sumenep, M. Salahuddin A. Warits, pada saat mengisi koloman budaya di salah satu cafe di Pamekasan, Minggu (18/11/2024).
Kiai muda Pesantren Annuqayah yang akrab disapa Ra Mamak itu mengatakan, pada dasarnya politik adalah hak semua kalangan, baik pengusaha, guru, petani, dan lainnya. Namun, hal itu terkadang terhalang oleh penguasa oligarki.
“Kita melihat ada generasi politik naif terhadap pengalaman praktik politik. Tetapi di sisi lain, mereka masih memulai standar-standar nilai untuk menyorot praktik politik itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, generasi muda saat ini harus peka dengan perkembangan politik. Apalagi tantangan politik saat ini adalah adanya pergeseran demokrasi. Sehingga, berpengaruh terhadap kebijakan yang diproduksi.
Harusnya, kata Ra Mamak, politik bisa memproduksi kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Namun, hal itu tidak terealisasi karena terbentur oleh sistem birokrasi. Hingga pada akhirnya, kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh politikus hanya berpihak pada satu golongan.
“Tahun 70-an, memikirkan gagasan politik saja tidak bisa. Jadi bagaimana, pendidikan politik ini mampu menghasilkan visi peradaban,” terangnya.
Dia menambahkan, pola politik setiap zaman berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh sistem kekuasaan yang tidak baik. Menurutnya, sistem kekuasaan seperti itulah yang membuat kalangan anak muda enggan berpolitik dan bahkan dianggap apatis.
“Gen Z bukan apatis terhadap politik, tapi generasi sebelumnya menanamkan kepada kita politik yang traumatik, politik yang tidak memberikan harapan apa-apa, politik yang hanya memberikan kekuasaan tanpa menghasilkan produksi kebijakan” tegasnya. (nur/zul)





