Mengkreasikan peluang dan takdir. Itulah spirit hidup Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan (STAIFA) Sumber Gayam Pamekasan KH. Moh. Syairozi Hefni.
KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN.
Sosok yang lahir di Pamekasan 30 September 1987 ini sebenarnya tidak menyangka akan diamanahi sebagai pucuk pimpinan sebuah perguruan tinggi. Namun, dirinya harus menjalankan amanah dari Yayasan Al Falah Sumber Gayam.
SK pendirian STAIFA dari Kemenag RI pada 2019 lalu sejatinya diterima oleh tokoh agama yang akrab disapa Kiai Rozi itu, tapi musyawarah yayasan di Juni 2025 lalu, baru mengamanahkannya sebagai Ketua STAIFA sampai 2030 mendatang.
Jebolan S1 UIN Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember itu ditunjuk langsung oleh Ketua Yayasan Al Falah Sumber Gayam Pamekasan KH. Afifuddin Thoha.
“Kalau perjalanan menjadi Ketua STAIFA Pamekasan hanya faktor keberuntungan saja, beliau ketua yayasan bermusyawarah menunjuk saya dan para pengurus yayasan sepakat,” paparnya, Minggu (13/7/2025).
Alumnus Magister S2 UIN Madura itu menyampaikan, untuk menatap masa depan STAIFA Pamekasan dia ingin melakukan penataan internal, agar bisa menjadi kampus yang terus meningkatkan kontribusinya untuk kemajuan bangsa dan negara.
Dia juga memiliki keinginan untuk berusaha melengkapi berbagai administrasi yang dibutuhkan, supaya bisa segera alih status dari sekolah tinggi menjadi institut. Bahkan dalam waktu dekat dia ingin membuka program studi (Prodi) baru, yakni; Pendidikan Agama Islam (PAI). Adapun prodi yang tersedia saat ini masih tiga prodi, yakni: Hukum Ekonomi Syariah (HES), Bimbingan Konseling Islam (BKI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
“Pada esensinya kami ingin mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, menjadi orang yang berilmu dan berakhlakul karimah,” ujarnya.
Kiai Rozi menyampaikan, meskipun berada di lingkungan berpendidikan bukan tidak pernah berada di posisi sulit ketika menempuh pendidikan. Suatu ketika saat dia kuliah di UIN KHAS Jember sempat kekurangan bekal, karena dia tidak dibebaskan untuk meminta berapa pun setiap bulannya ke orang tuanya, tapi dijatah sesuai dengan nilai yang bisa diberikan.
“Pernah uang saya tidak cukup, sampai saya hanya makan nasi seadanya. Untung saya punya rice cooker, jadi saya beli beras, beli kentang dan bumbu pecel, baru dimakan berbarengan,” imbuhnya.
Pria yang pernah mondok di Pesantren Sidogiri ini memiliki cara suksesnya tersendiri, yakni; tidak pantang menyerah, konsisten belajar, dan ketika tidak mengerti soal materi pembelajaran, dia tidak sungkan kepada orang yang lebih paham.
“Harapan saya STAIFA lebih maju dan lebih dikenal serta makin bermanfaat kepada masyarakat,” pungkasnya. (nam)





