Tanam Bibit, Muhri Ingatkan DLH Sumenep Tidak sekadar Gugurkan Tugas

KABAR MADURA | Ketua Komisi III DPRD Sumenep M. Muhri soroti program pengadaan dan penanaman bibit oleh Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Sumenep tahun 2025.

Kata Muhri, keberhasilan program ini harus berdampak nyata, minimal bisa membantu mengatasi persoalan kekeringan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Sumenep. Dia juga mengingatkan agar DLH tidak hanya sekadar menggugurkan program rutin tahunan. 

Lokasi penanaman juga ditekankan untuk dipetakan secara cermat agar tanaman tumbuh optimal dan memberi kontribusi nyata bagi lingkungan. 

“Program ini jangan hanya formalitas. Tanaman-tanaman itu harus mampu memberi solusi, minimal ikut mengatasi kekeringan. Pilihlah lokasi yang benar-benar membutuhkan penghijauan dan memungkinkan pohon tumbuh subur,” ujarnya. 

Baca Juga:  Fraksi PDIP Sumenep Inisiasi Raperda Pembatasan Usia Media Sosial untuk Lindungi Anak

Wilayah-wilayah yang sering dilanda kekeringan, imbuh Muhri, seharusnya menjadi prioritas utama dalam penanaman, karena akar pohon bisa membantu menyimpan air dalam tanah dan menjaga kelembaban lingkungan. 

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Dia berharap program penghijauan ini bisa menjadi investasi jangka panjang untuk ketahanan lingkungan, bukan sekadar proyek musiman. 

“Kalau dilakukan serius dan berkelanjutan, dampaknya akan terasa langsung oleh masyarakat. Bukan hanya estetika, tapi juga fungsi ekologisnya benar-benar berjalan,” paparnya. 

Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan DLH Sumenep Moh. Hasinuddin Firdaus menyebutkan bahwa bibit tersebut akan mulai ditanam Agustus mendatang, terpusat di Desa Lenteng dan Desa Batuan, serta sebagian lainnya di taman kota, sepanjang ruas jalan, dan kebun bibit di Pulau Sapudi. 

Baca Juga:  Fraksi PDIP Sumenep Soroti Minimnya Fasilitas Olahraga hingga Infrastruktur

“Mengalokasikan anggaran sebesar Rp258 juta dari APBD 2025 untuk pengadaan bibit tanaman,” ujarnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP), dana tersebut terbagi dalam tiga paket pembelian pertama Rp199.400.000, kedua Rp47.119.500, dan Rp12.309.900. 

“Bibit yang dibeli beragam, mulai dari pohon tabebuya, sukun, sawo kecik, mahoni, flamboyan, kelengkeng, hingga tanaman hias seperti pucuk merah, sansevieria, dan bunga puring,” pungkasnya. (ara/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *