Di usia senja yang semestinya dihabiskan untuk beristirahat, Abd. Ghafir justru masih setia melangkahkan kaki menuju ruang kelas. Guru yang resmi pensiun pada 2016 silam itu seakan tidak pernah kehilangan semangat untuk berbagi ilmu. Perjalanannya sebagai pendidik dimulai dari status sukwan, berpindah-pindah mengajar di berbagai sekolah yang ada di Pamekasan, sebelum akhirnya diangkat menjadi PNS pada tahun 1987. Namun, setelah puluhan tahun mengabdi, satu hal yang tetap tidak pernah berubah, yakni kecintaannya pada dunia pendidikan.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Bagi pria kelahiran 1957 ini, mengajar bukan hanya sebatas rutinitas belaka, melainkan napas harian yang membuatnya merasa tetap berguna dan memberikan kemanfaatan kepada sesama. Prinsip itulah yang membuat Ghafir tetap memberikan ilmunya hingga kini meski sudah pensiun sejak beberapa tahun lalu.
Ghafir sadar, kondisinya saat ini tidak sekuat dulu untuk mengajar. Namun ketika bertemu dengan anak didiknya yang beragam karakter dan perilaku, dia memiliki energi serta motivasi tersendiri.
“Jadi guru memang cita-cita saya. Karena itu adalah cara yang bisa diterima dengan mudah untuk terus memberikan manfaat,” ceritanya, Selasa (25/11/2025).
Perjalanan guru yang kini berusia 68 ini tidak dimulai dengan kemapanan. Sebelum akhirnya diangkat menjadi PNS, dia menghabiskan tahun-tahun panjang selama 9 tahun sebagai guru sukwan, mengajar dari sekolah satu ke sekolah lain, menerima honor seadanya, dan menghadapi ketidakpastian tanpa keluhan.
Seiring dengan kondisi itu, tekad Ghafir untuk menjadi pendidik yang bermanfaat tidak pernah surut hingga akhirnya dia berhasil diangkat menjadi PNS pada tahun 1987 silam. Dedikasinya di dunia pendidikan semakin mengakar dalam dirinya. 18 tahun dia dipercaya menjadi kepala sekolah (kepsek).
“Lima tahun jadi kepsek di SD Pakong. 13 tahun kepsek di SDN Lemper. Nah, masa-masa sebelum pensiun ini akhirnya saya mengajukan ke dinas untuk tidak jadi kepsek, pengen jadi guru biasa,” tuturnya.
Dengan berbagai macam pengalaman sebagai guru sejak beberapa dekade, pemilik Yayasan Nurun Nafiat ini tidak menampik adanya tantangan tersendiri saat mengajar. Menurutnya, mengajar bukan suatu hal yang mudah. Dirinya harus pintar-pintar menguasai ruang kelas agar terlihat nyaman bagi anak didiknya. Tidak hanya itu, dia harus memahami betul bagaimana kondisi mental dan kemampuan masing-masing individu murid.
Di balik tantangan itu, lanjut Ghafir, ada kesan tersendiri yang sangat melekat dalam ingatannya selama puluhan tahun menjadi guru. Salah satunya saat dia bertugas di SD Negeri Lawangan Daya 2. Pria beralamat di Kelurahan Barurambat Timur, Kecamatan Pademawu ini melihat bagaimana tulusnya seorang guru melalui rekan-rekan seprofesinya yang berstatus sukwan.
“Di sana gurunya banyak yang sukwan tapi aktif-aktif semua. Muridnya juga banyak. Melihat semangat dan ketulusan mereka membuat saya memiliki energi dan motivasi yang lebih,” jelasnya.
Hingga kini, Ghafir tidak pernah terpikir untuk berhenti mengajar sampai kapanpun. Baginya, memberikan ilmu kepada murid-muridnya seolah menjadi vitamin harian. Dia juga getol menyuarakan tentang kesejahteraan para guru, khususnya di wilayah Pamekasan. Ghafir menilai, kesejahteraan guru harus menjadi kebijakan yang diprioritaskan.
“Guru adalah investasi negara. Tugas mereka berat, karena bertanggung jawab atas pendidikan karakter anak bangsa,” tukasnya. (zul)





