KABAR MADURA | Warga Pulau Mandangin, Sampang, mengeluhkan keberadaan tumpukan sampah yang berada sangat dekat dengan Puskesmas Mandangin. Kondisi tersebut dinilai membahayakan kesehatan masyarakat sekaligus mencerminkan lemahnya pengelolaan lingkungan oleh pemerintah daerah.
Salah seorang warga Pulau Mandangin, Ilham, mengungkapkan bahwa Pulau Mandangin sempat mengalami kondisi bersih total pada 2018 silam berkat kekompakan masyarakat dalam melakukan gotong royong membersihkan sampah. Bahkan, upaya itu sempat mendapat perhatian dengan diliput salah satu stasiun televisi nasional.
“Waktu itu Mandangin benar-benar bersih karena gotong royong warga. Tapi setelah itu tidak ada lagi gagasan lanjutan dari pemerintah soal keberlanjutan pengelolaan sampah,” ungkapnya, Kamis (8/1/2026).
Namun, alih-alih membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, warga justru menilai pemerintah membuat kebijakan yang memperburuk kondisi lingkungan. Di sisi selatan Pulau Mandangin, dibangun sebuah kubangan yang dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, dengan jarak yang sangat dekat dengan bangunan Puskesmas Mandangin yang baru.
Hal itu menimbulkan kekhawatiran serius di tengah masyarakat, terutama terkait dampak kesehatan jangka panjang. Ilham menyebutkan, sebagian besar warga Mandangin menggantungkan kebutuhan air minum dari air hujan.
“Sekitar 99,9 persen warga di sini minum air hujan. Kami sangat khawatir dengan dampak mikroplastik yang terbawa hujan dari tumpukan sampah itu,” keluhnya.
Meski hingga saat ini belum ada laporan pasien puskesmas yang terdampak secara langsung, Ilham menilai potensi munculnya penyakit baru sangat besar. Terlebih, lokasi fasilitas kesehatan yang berdampingan langsung dengan tumpukan sampah dinilai sangat tidak ideal.
Selain ancaman kesehatan, dampak lingkungan juga dirasakan warga saat beraktivitas di pesisir dan laut. Sampah plastik, besi, hingga sisa logam berserakan di sepanjang pantai dan membahayakan keselamatan.
“Kalau ke laut, kaki kami sering luka. Ada sampah plastik keras, besi, bahkan potongan seng,” katanya.
Ironisnya, kondisi itu juga berdampak pada ternak warga. Kambing-kambing milik masyarakat kerap memakan plastik dan sampah lain akibat minimnya pakan alami di pulau tersebut. Hal ini menjadi dilema tersendiri, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha atau saat kebutuhan konsumsi daging meningkat.
“Kambing di sini bukan hanya makan rumput, tapi juga plastik. Dan di hari raya, mau tidak mau kami tetap memakannya,” tambahnya.
Menurut Ilham, persoalan sampah ini bukan sekadar masalah kebersihan semata, melainkan persoalan serius yang berdampak pada kesehatan, lingkungan, hingga pola pendidikan masyarakat.
“Semua dampak buruk ada di pulau ini. Kalau dibiarkan, ini akan membentuk kebiasaan buruk bagi masyarakat awam, dan dari sisi kesehatan risikonya sangat besar,” tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Puskesmas Pulau Mandangin Rina Dwiyanti menyampaikan bahwa tumpukan sampah di sekitar Puskesmas Mandangin sudah berlangsung cukup lama. Namun, dia memastikan tidak ada sampah medis yang dibuang di sekitar area puskesmas tersebut.
“Saya kan di Mandangin sejak Januari 2023, tumpukan sampah itu sudah ada. Tidak ada sampah medis yang dibuang di situ, diangkut ke pihak ketiga,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rina menjelaskan, pihaknya telah berupaya berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengatasi persoalan tersebut. Komunikasi telah dilakukan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Daerah (PUPR).
“Saya sudah ke DLH dan langsung telponan dengan Bu Atik PUPR waktu itu dan sudah dirapatkan DLH dengan PUPR,” pungkasnya. (yan/zul)





