Malam nisfu syaban setiap tahunnya jatuh pada malam ke-15 bulan Syaban dalam kalender Hijriah. Bagi masyarakat muslim di Kabupaten Sumenep, malam nisfu syaban merupakan malam keistimewaan.
IMAM MAHDI, SUMENEP
Peringatan tahunan ini menjadi momentum bagi masyarakat Sumenep untuk memperkuat amaliyah ubudiyah untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Salah satunya dengan cara bersedekah (rebba) di malam nisfu syaban.
Pagi-pagi buta, tampak masyarakat di Desa Errabu, Kecamatan Bluto, mulai belanja keperluan rebba. Bahan-bahan keperluan untuk membuat adonan kue cucur hingga ketan, dan beberapa jenis makanan tradisional dibeli.
Mereka membuat dan memasak adonan tersebut hingga matang. Setelah itu, dikemas dan diantarkan ke musala maupun masjid di sekitar rumahnya. Tujuannya untuk bersedekah, dengan harapan mendapatkan keselamatan dan ampunan dari Allah SWT. “Ini (rebba) tradisi kami,” kata warga Sumenep Rahmaniyah.
Dia mengatakan, rebba biasa dilakukan, baik setiap malam Jumat maupun di malam nisfu syaban. Bedanya, jika di malam nisfu syaban, sabelum makanan rebba itu dimakan bersama, sebelumnya membaca surat Yasin tiga kali dan doa bersama.
“Ini kebiasaan kami di sini. Kebanyakan di Sumenep, khususnya di pedesaan itu sama kok,” tegas dia.
Budayawan Sumenep Madura D. Zawawi Imron mengatakan, budaya yang oleh masyarakat disebut rebba pada bulan nisfu syaban itu, sebenarnya bentuk dari sedekah kepada saudara maupun lingkungan sekitar dalam bentuk makanan.
Menurutnya, yang paling penting sebenarnya adalah pada malam nisfu syaban adalah memperbanyak amal ibadah serta memperbaiki diri. Misalnya, banyak zikir dan ritual-ritual keagamaan lainnya.
“Tradisi rebba atau yang disebut juga oleh masyarakat itu ter-ater itu sangat bagus dan perlu dilestarikan, karena mengandung makna kebaikan antar sesama,” ujarnya.
Dikatakan, malam nisfu syaban adalah malamnya umat dan malam penagmpuna. Menurutnya, sebenarnya banyak riwayat yang menyebutkan bahwa malam nisfu syaban adalah malam pengampunan.
Misalnya, berdsarkan HR. Ibnu Majah bahwa sesungguhnya Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam nisfu Syaban, lalu Allah mengampuni dosa seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.
“Keutamaan itu menjadikan malam nisfu syaban sebagai waktu yang baik untuk introspeksi atau memperbaiki diri, Harapannya, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia,” kata kata anggota Dewan Pengasuh Pesantren Ilmu Giri Yogyakarta ini. (imd/din)





