KABAR MADURA | Volume sampah di Kabupaten Sampang terus meningkat dan kini mencapai sekitar 20 ton per hari. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena fasilitas reduce, reuse, recycle (TPS3R) masih sangat terbatas, padahal keberadaannya menjadi salah satu pilar utama pengelolaan sampah modern.
Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan dan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup dan Permukiman Rakyat (DLH Perkim) Sampang Aulia Arif menyebutkan bahwa lonjakan sampah tersebut tidak sebanding dengan kemampuan layanan persampahan yang dimiliki daerah.
“Setiap hari Sampang menghasilkan kurang lebih 20 ton sampah. Komposisinya didominasi oleh sampah plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai,” ungkapnya, Jumat (14/11/2025).
Dia menegaskan, persoalan semakin rumit karena anggaran pengelolaan sampah masih sangat terbatas. Minimnya dana membuat pembangunan TPS3R, penambahan armada angkut, serta peningkatan sarana pendukung lainnya belum bisa dilakukan optimal.
“Kami sebenarnya sudah mempunyai grand desain pengelolaan sampah, namun membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Selain menambah jumlah TPS3R, pengadaan alat teknologi yang memadai seperti refuse derived fuel (RDF) juga penting,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, DLH Perkim Sampang berencana membatasi penggunaan plastik sekali pakai pada kegiatan pemerintahan dan layanan publik. Edukasi kepada masyarakat juga akan diperkuat untuk mendorong peralihan ke bahan ramah lingkungan.
“Kami juga melakukan pembinaan pengelolaan sampah kepada pegiat lingkungan, seperti go green yang dibentuk oleh masyarakat,” pungkasnya. (yan/zul)





