Kekeluargaan

Oleh: Ahmad Sahidah*)

Betapa senang Zumi, si bungsu, akan bertemu kakak sepupunya di Malang. Ketika kami menunggunya di pujasera sebuah pasaraya, murid SD Namira ini menyiapkan kursi di sebelahnya. Takatla Dini Syahadatina datang, Biyya berdiri dan berhambur untuk memeluknya. Lalu, kami berfoto bersama di meja makan. Foto tersebut kami kirim ke keluarga di Sumenep agar kebersamaan ini bisa di-kongsi (bahasa jiran untuk share) dengan ibu, bapak, dan nenek Dini di kampung melalui Whatsapp.

Tidak jauh dari kami, ada sebuah keluarga besar yang juga menikmati makan malam. Si nenek tampak sumringah dengan mienya. Mungkin, menu ini tidak begitu istimewa, karena ia bisa dibuat di rumah. Tetapi, kebersamaan itulah yang membuatnya merasa berharga di tengah cucu-cucunya. Malah, harga mie itu sebenarnya terlalu mahal dari apa yang bisa dibuat di rumah dengan bahan yang sama. Tetapi, keluar dari rumah jelas merupakan salah satu kiat agar orang tua bisa keluar dari zona kebosanan.

Keluarga kini memang cenderung berkutat pada anggota ini, ayah ibu dan anak. Tidak seperti dulu, kami masih bisa menghitung tiga pupu dan masih bisa bertemu mereka tinggal berdekatan. Belum lagi, tradisi halaman panjang (taneyan lanjhang), tempat rumah berjejer dengan berhalaman bersama sudah jarang didirikan karena kediaman kini dibuat dengan dikelilingi pagar. Konstruksi bangunan turut mengecilkan hubungan keluarga besar.

Baca Juga:  HUT ke-14 Kabar Madura, Goes to Campus di Poltera Perkuat Kolaborasi Media dan Akademik

Apalagi, sekarang mobilitas semakin tinggi. Mangan ora mangan kumpul (makan tidak makan asal kumpul) tidak lagi ampuh mengikat keluarga berada dalam lingkaran radius yang memungkinkan untuk bertemu dalam momen khusus sewaktu-waktu. Beruntung, teknologi panggilan video (video call) dan pengiriman foto bisa dilakukan dengan mudah sehingga ikatan masih bisa dirawat. Pendek kata, hubungan dengan kampung halaman tetap menjadi tradisi, yang diikat dengan kehadiran orang tua sebagai tempat pulang mengokohkan akar dan asal-usul.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

David V Civatta, dalam Spirit, the Family, and the Unconscious in Hegel’s Philosophy”menyodorkan bagaimana Hegel bercerita soal kemampuan kita untuk mengurus hubungan kita dengan orang lain yang bermula dari intersubyektivitas. Ini bermula dari keberadaan kita sebagai anggota dari sebuah keluarga. Dari sini, identitas dan hubungan kita terbentuk. Pendek kata, betapa penting kedudukan keluarga dalam kehidupan manusia.

Namun, kata kekeluargaan tidak hanya berarti hubungan darah, tetapi juga kemanusiaan lebih luas. Dengan dasar ini, sejatinya seseorang memiliki ikatan yang kokoh dengan orang lain sebagai sama-sama manusia. Tidak pelak, dalam konstitusi kita, asas dari ekonomi kita (Pasal 33 ayat 1) adalah kekeluargaan. Ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Peter Kropotkin (1842-1921), filsuf Rusia, bahwa kompetisi adalah hukum rimba dan koperasi adalah hukum peradaban. Manusia tidak lagi dibatasi oleh unit kecil, tetapi merupakan satu titik dari lingkaran besar untuk kesejahteraan bersama.

Baca Juga:  Tambang Ilegal Sedalam 50 Meter di Pamekasan Disorot, Pemkab Minta APH Tutup Lokasi Galian

Lebih jauh, agama memang berkisah soal hubungan kita dengan orang lain laksana satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka bagian yang lain turut merasakannya. Tentu, nilai ini tidak hanya diajarkan di atas kertas, tetapi prinsip etis ini harus diajarkan dan dipraktikkan secara nyata di sekolah, agar individu ini nanti tidak lagi dipenjara oleh identitas sempit dan sentimen kelompok. Masyarakat juga menjadi bagian dari ruang pembelajaran agar pendidikan akhlak tersebut dipraktikkan, sebab lingkungan adalah sekolah lain yang juga perlu diperhatikan.

Tetapi, adakah nilai-nilai di atas telah merembesi kehidupan sehari-hari? Kekhawatiran terhadap agama dijadikan tameng untuk menyelubungi hasrat manusia sangat beralasan. Diam-diam, seruan untuk peduli dengan tetangga sebagai bagian dari iman di dalam khotbah Jum’at hanya berhenti di masjid, tidak di kehidupan nyata. Sama dengan kata keluarga, kata tetangga hakikatnya menggambarkan bahwa persaudaraan kemanusiaan tidak bisa dibatasi oleh hubungan darah dan kekerabatan. Itu artinya bahwa kita menjadi manusia karena kita melihat orang lain sebagai manusia. Bukankah jika kita meyakini berasal dari nabi Adam, maka kita sebenarnya adalah keluarga besar?

*) Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *