Buya Said Abdullah, Benteng Politik Banteng di Madura

Opini307 views

Oleh: Mohammad Suhaidi
Dosen Universitas PGRI Sumenep dan Penikmat Politik Lokal

“Calon legislatif (caleg) sekaligus petahana dari daerah pemilihan (dapil) XI Jawa Timur fraksi PDI Perjuangan, Said Abdullah, mencatatkan perolehan 529.792 suara. Jumlah ini diklaim menjadi perolehan suara caleg tertinggi di tingkat nasional” (https://nasional.kompas.com)

Narasi di atas, setidaknya menjadi pembuka tentang kehebatan politisi ulung MH. Said Abdullah (Buya Said). Ia termasuk satu dari sekian tokoh politik dari Madura yang cukup mashur di republik ini. Namanya cukup tenar dalam pusaran politik nasional, terutama dalam dinamika politik internal partai Buya Said dibesarkan; Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Semua orang paham, kiprah politik Buya Said tidak lahir prematur. Ia lahir dalam kandungan politik PDI Perjuangan yang cukup matang. Buya Said tidak lahir dari proses caesar politik yang dipaksakan, tetapi ia lahir sebagai politisi dengan kerja keras dan pengabdian yang panjang di tubuh partainya. Sebagai kader partai, ia benar-benar merasakan proses pengkaderan yang tajam, berliku, dan sangat keras. Bahkan, ia lahir sebagai kader partai tidak langsung menjulang dari atas, melainkan merangkak dari bawah secara bertahap, menuju puncak mercusuar politik PDI Perjuangan. Buya Said adalah sosok politisi yang besar dengan proses yang panjang.

Ibarat orang mondok, Buya Said termasuk santri politik yang cukup lama merasakan asam garam proses pengkaderan politik di partainya. Maka, militansi, loyalitas, dan ideologisasi yang menjadi garis ajaran dan perjuangan partai telah menyatu dalam aliran darahnya yang merah. Mungkin saja, bagi Buya Said, darahnya akan tetap merah sampai kapanpun sesuai dengan warna partai yang telah membesarkan dan menjadi wasilah dalam memperjuangkan kemaslahatan umat.

Saat ini, dengan posisi strategis di partainya, bahkan atas posisinya sebagai ketua Banggar DPR RI, menjadi bukti nyata tentang kematangan politik dan konsistensinya dalam menjaga ideologi dan marwah partai yang telah membesarkannya. Bahkan, melalui PDI Perjuangan, Buya Said telah memastikan jihad pembangunan untuk tanah kelahirannya “Madura” berjalan dengan baik. Kiprah besar Buya Said di tingkat nasional, sejatinya bukan hanya sekedar membawa nama besar PDI-P, melainkan di satu sisi Buya Said sedang menjelaskan kepada semua pihak bahwa anak Madura juga mampu menjadi bagian strategis dalam proses pembangunan Indonesia. Buya Said–terlepas dari kelemahan dan kelebihannya-adalah miniatur politik pulau Madura yang cukup sempurna di nusantara.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Selalu Menang

Dengan pengalaman dan kematangan politik yang dilaluinya, Buya Said telah menjelma menjadi kekuatan baru dalam setiap momentum politik. Buya Said bahkan dianggap sebagai politisi yang tidak pernah kalah dalam setiap pergulatan politik yang keras. Keberhasilanya menjadi anggota DPR RI berkali-kali, membuktikan tentang “ladunni politik” yang dimilikinya. Jarang ada tokoh Madura, mampu menjaga dan mempertahankan suaranya dalam setiap pemilu. Buya Said telah menunjukkan kemampuan politiknya yang cukup taktis. Setiap pemilu, ia selalu hadir sebagai pemenang dan melenggang dengan mudah ke Senayan mewakili Madura.

Dengan capaian suara 250 ribu di Pulau Madura pada Pemilu 2024 kemarin, Buya Said telah menegaskan tentang posisinya sebagai politisi ulung yang sulit dikalahkan. Perolehan suara yang cukup menggemparkan itu, kejeniusan politik Buya Said mampu merebut dua kursi DPR RI untuk Dapil Madura. Mungkin saja ini menjadi prestasi pertama dalam sejarah perjalanan politik PDI Perjuangan di Madura. Bahkan, dua kursi DPR RI menjadi persembahan penting bagi Buya Said untuk kejayaan PDI Perjuangan di Nusantara.

Baca Juga:  DPR RI Usulkan Pelunasan Haji Diangsur Selama Masa Tunggu 

Dalam politik berlaku hukum tidak tertulis; “harus selalu menang, dan wajib menghindari dari setiap kekalahan”. Apalagi, dunia politik itu penuh dengan intrik, penuh dengan dinamika yang keras, bahkan sesekali menjelma menjadi dunia rimba. Hanya politisi berkelas dan cukup modal politik, yang akan selalu keluar menjadi pemenang. Keberhasilan Buya Said merebut suara rakyat Madura, sehingga tetap mendapatkan kepercayaan yang besar, karena ia telah mampu membuktikan keberadaannya sebagai sosok yang “khoirunnasi anfa’uhum linnasi”.

Tidak sedikit politisi yang tidak mampu menjaga eksistensinya dalam menjaga kepercayaan rakyat. Cukup banyak politisi yang gagal mempertahankan marwah politiknya di mata rakyat, sehingga harus mendapatkan hukuman politik dari rakyat dengan cara tidak dipilih dalam setiap pergulatan politik yang terjadi. Walaupun, faktornya memang tidak sesederhana itu, karena dalam politik itu, untuk keluar menjadi pemenang harus ditopang dengan kekuatan yang kompleks. Di situlah, kehebatan seorang politisi itu diuji dan dibuktikan. Dan, Buya Said tampaknya menjadi politisi yang memiliki modal yang ad’afan mudh’afah itu.

Benteng Politik si Banteng

Setuju atau tidak, harus diakui eksistensi politik PDI Perjuangan terus meroket di Madura. Pemilu 2024 yang lalu, telah menjadi tanda tentang munculnya “hilal” kejayaan partai pewaris ajaran Bung Karno di tanah Madura. Nyaris, setiap kabupaten di Madura, tangan dingin politik Buya Said telah mampu memastikan eksistensi politik PDI Perjuangan diterima dengan baik oleh masyarakat Madura. Buya Said mampu membawa PDI Perjalanan setara dengan partai-partai yang memiliki karakter dengan masyarakat Madura yang religius, seperti PKB dan PPP. Tentu saja kondisi ini, menjelaskan tentang kemampuan politik PDI Perjuangan yang diterima oleh mayoritas Madura dalam semua lapisan, salah satunya lapisan kiai dan ulama. Buya Said telah melakukan itu dengan sangat baik. Atau bahkan, Buya Said telah mampu menggeser posisi partai-partai religius itu dari hati masyarakat Madura. Pemilu 2024, setidaknya menjadi jawaban itu, dengan beberapa argumen yang cukup rasional.

Pertama, terlepas dari apakah Pemilu 2024 itu menjadi faktor keberuntungan bagi PDI Perjuangan itu, persoalan lain. Tetapi, capaian suara dalam Pemilu 2024 yang lalu, telah memberikan piala emas atas kiprah politik PDI Perjuangan. Raihan dua kursi untuk DPR RI dan dua kursi untuk DPRD Provinsi dari Dapil Madura, menunjukkan kejeniusan politik Buya Said dalam menata dan mengelola politik si Moncong Putih di Madura. PDI Perjuangan telah menjadi bintang dalam politik Pemilu 2024 dengan capaian yang menakjubkan. Dua kursi DPR RI dan dua kursi DPRD Jawa Timur, hanya bisa dilakukan oleh partai yang memiliki kapasitas dan kualitas politik yang luar biasa. Buya Said adalah peracik politik PDI Perjuangan dalam Pemilu 2024 yang cukup cerdik dan cerdas.

Baca Juga:  Syukri: Muscab PPP Jadi Ajang Penguatan Sejarah dan Ideologi Partai

Kedua, bendera kemenangan politik PDI Perjuangan dalam Pilkada 2024 juga sangat tampak. Salah satunya, kemampuan PDI Perjuangan mendudukkan kader terbaiknya di kursi bupati. Selain itu, perolehan kursi terbanyak di DPRD Sumenep, sehingga menjadi mendapat jatah ketua DPRD yang sebelumnya menjadi hak PKB dalam beberapa periode. Khusus di Kabupaten Sumenep, Buya Said mampu membawa PDI Perjuangan menjadi partai pemenang yang sempurna: merebut eksekutif dan legislatif dalam satu genggaman politik. Selain itu, PDI Perjuangan juga mampu mengubah peta politik Bangkalan dengan cukup cerdas. Koalisi PDI Perjuangan dan PKB yang diracik Buya Said, telah mampu menggetarkan jagad politik Madura, karena calon yang diusung PDI Perjuangan mampu menjadi orang nomor satu di kabupaten ujung barat Madura itu. Bupati Bangkalan milik PDI Perjuangan.

Ketiga, ikhtiar politik Buya Said juga bekerja di Bumi Gerbang Salam. Pilkada Pamekasan yang diterjemahkan dalam koalisi PPP-PDI Perjuangan, menggambarkan tentang kesuksesan politik Buya Said menembus tembok hijau Pamekasan. Koalisi PPP-PDI Perjuangan dalam Pilkada 2024 memang tidak semulus koalisi PDI Perjuangan dan PKB di Sumenep dan Bangkalan. Kabupaten Pamekasan memang menjadi wilayah paling unik dan sulit ditaklukkan. Dengan kultur keagamaan yang cukup berbeda dibandingkan dengan tiga kabupaten yang lain di Madura, secara politik Pamekasan merupakan wilayah yang menjadi basis kuat PPP. Partai seperti PDI Perjuangan sebenarnya cukup sulit untuk berkembang di wilayah ini. Tetapi, Pilkada 2024, situasi berhasil dibalik. Ikhtiar PDI Perjuangan untuk menjadi partai yang bisa eksis di bumi Gerbang Salam, secara perlahan mulai bisa dilakukan. Koalisi PPP-PDI Perjuangan pada Pilkada 2024, menjadi pengalaman paling unik dalam sejarah politik di Pamekasan. Bahkan, koalisi itu dapat dianggap sebagai bagian dari keberhasilan strategi politik PDI Perjuangan di wilayah Pamekasan. Di satu sisi, bagi PDI Perjuangan dapat berkoalisi dengan PPP dalam pilkada itu, pada dasarnya dapat menjadi karpet merah bagi eksistensi politik PDI Perjuangan di masa depan. Intinya, Pilkada 2024 bisa menjadi awal kemajuan politik PDI Perjuangan di Pamekasan. Politik Buya Said telah bekerja dengan baik utuk menjadi benteng bagi politik si Banteng di Pamekasan.

Akhirnya, gerakan politik yang dilakukan Buya Said melalui PDI Perjuangan sejatinya bukan hanya sekedar orkestra seorang politisi, melainkan menjadi ibrah tentang konsistensi dan kecerdasan pikiran politik seorang tokoh lokal. Buya Said adalah gambaran tentang figur besar yang lahir dari politik akar rumput, kemudian menembus politik nasional. Buya Said Abdullah telah mampu menjadi benteng bagi politik si Banteng di Madura dengan baik, bahkan ia telah berhasil membawa eksistensi PDI Perjuangan menjadi partai paling diperhitungkan di Madura. Di tangan Buya Said, bendera PDI Perjuangan telah berkibar di Madura. Tampaknya, Buya Said hanya punya satu tagline politik yang menjadi pegangannya “Menang, menang dan selalu menang”. heee

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *