KABAR MADURA | Aliansi Jurnalis Muslimah (AJM) Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan menggelar Seminar Jurnalistik sekaligus launching buku antologi puisi “Dari Hening untuk Bicara”, Sabtu (16/1/2026) di Aula Pesantren Putri Darul Ulum Banyuanyar.
AJM menghadirkan dua pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, yaitu Khoyrul Umam Syarif (Kabar Madura) dan Umarul Faruq (Analisa).
Dalam kesempatan itu, Khoyrul Umam Syarif menyampaikan, pemahaman literasi berita di tengah derasnya arus informasi digital sangatlah penting.
Menurut Kabiro Kabar Madura Pamekasan itu, santri harus mampu bersikap kritis terhadap informasi yang beredar, khususnya di media sosial. Tujuannya, agar tidak terjebak dengan informasi hoaks dan menyesatkan.
“Santri masa kini harus pintar memahami konteks, sumber, dan kebenaran informasi yang didapatkan, makanya literasi berita menjadi benteng utama untuk menangkal hoaks,” paparnya.
Jebolan Pascasarjana Unisma Malang itu menjabarkan pentingnya etika jurnalistik dalam penulisan berita. Dia menilai santri memiliki potensi besar menjadi penulis dan jurnalis yang berintegritas. Sebab, mereka dibentuk dalam tradisi kejujuran dan kedisiplinan pesantren.
“Pesantren harus menjadi ruang subur lahirnya jurnalis berakhlak, kritis, dan berorientasi pada kebenaran,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua AJM Pondok Pesantren Banyuanyar Susmiyati menegaskan, seminar tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi di lingkungan pesantren. Harapannya, santri tidak hanya menjadi konsumen berita, tetapi juga mampu memproduksi tulisan yang berkualitas.
“Tujuannya untuk menambah ilmu kejurnalistikan terutama jurnalis di ranah pesantren. Utamanya dalam literasi beritanya,” terangnya.
Selain itu, Susmiyati berkeinginan kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar santri semakin cakap menghadapi tantangan informasi di era digital.
“Harapannya ingin mencetak generasi yang bermutu,” tukasnya. (nur/nam)





