Jadikan Wayang Kulit Kritik dan Penyadaran terhadap Pelestarian Budaya Lokal

Berita, News131 views

KABAR MADURA | Kemeriahan tahun baru 2025 di Kota Gerbang Salam memiliki makna tersendiri. Puluhan masyarakat lokal berkumpul di lapangan Sedangdang, Barurambat Kota, Kecamatan Pamekasan, Sabtu malam (4/1/2025). Mereka menikmati pertunjukan wayang kulit yang didalangi oleh Ki Sudirman, satu-satunya dalang di Pamekasan.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Dalam pertunjukan tersebut, tentu tidak hanya sebatas menyajikan hiburan semata. Namun, ada nilai-nilai kebudayaan yang ingin disampaikan ke khalayak umum.

Keberadaan wayang kulit di Pamekasan mulai terlupakan atau bahkan nyaris tidak ada yang mengetahui. Indikasinya, tidak ada regenerasi dalam melakoni wayang kulit. Rata-rata, dalang ataupun penabuh alat musik di pertunjukan itu dilakoni oleh orang yang sudah sepuh. Kondisi itu membuat Masyarakat Rojhung tergerak untuk mewadahi pertunjukan tersebut.

Ketua Masyarakat Rojhung Novi Kamalia mengatakan, dalam pelestarian budaya diperlukan adanya regenerasi untuk merepresentasikan setiap kebudayaan lokal. Oleh karena itu, dia menyelenggarakan refleksi kebudayaan di awal tahun 2025. Tujuannya, untuk memberikan penyadaran ke masyarakat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab penuh atas pelestarian budaya lokal.

“Refleksi kebudayaan ini mencakup beberapa kegiatan. Selain pertunjukan wayang kulit, juga ada sarasehan budaya, musik daul, dan musik religi,” terangnya.

Menurut Novi, keterlibatan semua pihak dalam melestarikan budaya cukup signifikan. Sebab itulah, dia melibatkan beragam elemen masyarakat dalam refleksi kebudayaan itu, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, politisi, budayawan atau pegiat seni, dan lainnya. Harapannya, publik lebih peka dalam merawat kebudayaan.

Selain itu, refleksi kebudayaan tersebut juga sebagai kritik atas kondisi budaya yang ada. Menurutnya, pemerintah daerah dan pelaku seni harus lebih aktif dalam penyelenggaraan kebudayaan.

“Sebenarnya, yang dibutuhkan dalam melestarikan kebudayaan adalah action nyatantanya, bukan wacana,” tutup penulis Jungkir Balik Kekuasaan Lalake’ tersebut. (waw)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *