Kebersihan

Falsafah Harian

Ahmad Sahidah : Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid

Teman sekerja saya, Nurhamid, lulusan Universitas Kanazawa Jepang, menyampaikan bahwa kepedulian warga negeri Matahari Terbit pada kebersihan sangat tinggi. Ini ditunjukkan dengan penyedian tempat sampah di satu titik di sebuah gedung, tidak di banyak tempat. Selain itu, masyarakat Tenno Heika ini menggunakan kantin dan pasar mini untuk makan dan membuang bungkus di tempat yang telah disediakan di empat kotak. Mungkin, kita perlu membiasakan praktik ini, yakni orang makan di tempat khusus agar tidak seenaknya membuang bungkus minuman dan makanan di jalanan dan di sembarang tempat.

Ketika berkunjung ke Singapura, kami merasakan kenyamanan karena kotanya bersih. Sepanjang kami menyusuri jalan ke warung makan Melayu Maimunah di Jalan Bencoolen, tak satupun terlihat sampah tergeletak di trotoar. Teman baik dari negeri Temasek, Imran Mohammed Taib, menjelaskan kondisi ini karena ada dua faktor. Pertama, keamanan yang efektif. Ada undang-undang yang ketat dan diimplementasikan dengan konsisten. Kedua, pendidikan di institusi sekolah. Kedua faktor tersebut menumbuhkan efek pelaziman (baca: pembiasaan), secara ekstrinsik (menjaga kebersihan itu baik) ataupun secara intrinsik (takut didenda).

Sejatinya, kita juga telah menemukan keadaan serupa di negeri ini. Surabaya dikenal sebagai kota yang bersih dan hijau. Tangan dingin Risma telah menyulap kota Pahlawan ini menjadi tempat yang hijau dan enak dilihat karena tidak kotor dan gersang. Ketika menginap di sekitar Jalan Ahmad Yani, saya menyempatkan untuk berlari pagi agar dapat menghidup udara segar dan menikmati rimbun pepohonan dan bebungaan. Betapa menyenangkan duduk di Taman Bungkul setelah kami menunaikan salat Iduladha di jalan raya tahun kemarin.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Lalu mengapa kesadaran untuk menghijaukan lingkungan dan menjaga kebersihannya belum menjadi komitmen segenap lapisan? Melihat penyapu jalan publik di malam hari, saya melihat betapa ikhtiar ini bukan sekadar memindah kotoran ke tempat yang lain, tetapi bagaimana kebersihan itu adalah wujud dari keberpihakan yang jauh lebih utuh, yakni menjagai alam sekitar agar segar dan bugar. Usaha ini berbarengan dengan untuk memanfaatkan sampah dengan memilah dan memilih untuk produk hiliran yang berguna untuk kegunaan masyarakat.

Bersih itu juga tidak hanya tidak ada sampah di banyak ruang kehidupan, tetapi warga juga bebas dari udara kotor, baik asap kendaraan, pabrik, dan rokok. Dengan dukungan untuk menghentikan energi kotor, semua pihak harus mendukung untuk menggantikan batu baru dengan sumber daya alam yang ramah lingkungan, seperti angin, air dan matahari. Kita tentu tidak ingin mengulang bahwa manusia kini memerlukan air bersih dari botol, yang nanti pada gilirannya kita akan membeli udara bersih dari tabung.

Dari kenyataan di atas, setiap dari kita perlu mengubah cara berpikir untuk menggiring opini publik bahwa tanggung jawab mewujudkan kebersihan adalah amanah yang diberikan pada manusia sebagai khalifah di bumi. Kita memerlukan gerakan yang tidak dibebani oleh sentimen sempit, tetapi organisasi yang memiliki tujuan untuk menyelamatkan manusia dan rumahnya, yakni alam ini. Salah satunya adalah Deep Ecology, yang berpandangan bahwa kehidupan manusia dan bukan manusia  di atas bumi memiliki nilai intrinsik. Selain itu, kekayaan dan keanekaragaman dari bentuk-bentuk kehidupan merupakan nilai-nilai dalam diri mereka sendiri dan memberikan sumbangan bagi berkembanganya manusia dan bukan manusai.

Dari sini, manusia tidak memiliki hal untuk mereduksi kekayaan dan keanekaragaman, kecuali untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan vital. Untuk itu, perubahan signifikan terhadap kondisi kehidupan yang lebih baik memerlukan perubahan kebijakan (Arne Naess, Ecology, Community and Lifestyle, 1989). Dengan kata lain, esensialisme (dzi balin) seharusnya menjadi perhatian bersama agar warga bisa mengutamakan keperluan-keperluan yang penting.

Oleh karena itu, sekarang filsafat tidak hanya asyik dengan dirinya, tetapi juga harus menghadirkan lingkungan sebagai obyek kajian teoritis dan praktis. Itulah mengapa dalam Philosophy and Environment (2000) Vernon Pratt, Jane Howarth dan Emily Brady menyatakan bahwa filsafat, sejak Descartes, salah paham mengenai hubungan – apa adanya dan apa yang seharusnya – antara manusia dan dunia yang lain. Belum lagi, akal budi instrumental modernisme telah memperlakukan alam sebagai obyek eksploitatif seakan-akan manusia itu bisa melakukan apa saja, tanpa memahami eksistensi lingkungan yang memiliki pikiran dan kehendaknya sendiri.

Tentu, sebagaimana para tokoh Religi Tokugawa yang memiliki ritual menyapu halaman untuk menjaga kebersihan, tetapi pada waktu yang sama mereka meniatkan setiap ayunan sapu itu turut juga menyucikan hati mereka dari sifat-sifat buruk, seperti iri, hasut, dan dengki. Pendek kata, setelah membersihkan lingkungan, manusia akan berusaha menghilangkan prilaku yang tidak elok. Jadi, jika ada orang merokok tanpa menimbang orang-orang di sekitarnya, mungkin hatinya sedang kotor. Kebersihan yang paripurna adalah jiwa dan raga kita tidak digelayuti oleh perbuatan yang merusak fisik dan psikis diri, orang lain, dan alam.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *