Lulus di Unitomo, Wabup Sidoarjo Mimik Idayana Dapat Bekal Baru untuk Sidoarjo

Pendidikan49 views

KABAR MADURA | SURABAYA – Di tengah tuntutan pelayanan publik yang tak kenal jeda, Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, sukses menuntaskan studi sarjana Administrasi Negara di Universitas Dr. Soetomo, Surabaya.

Prosesi wisuda di Dyandra Convention Center, Minggu (26/4/2026), bukan sekadar seremoni, melainkan sinyal bahwa kualitas kebijakan bisa ditopang oleh ruang kelas.

Keputusan Mimik Idayana kuliah saat menjabat langsung bersinggungan dengan harapan warga. Pelayanan yang lebih tertata, keputusan yang lebih presisi, dan birokrasi yang tak berputar-putar.

Gelar akademik yang ia raih kini diuji bukan di atas panggung wisuda, melainkan di meja kerja dan lapangan.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Mimik itu menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Administrasi, jurusan Administrasi Negara.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Ia datang ke kampus bukan untuk formalitas, melainkan untuk memperkuat fondasi kerja yang selama ini bertumpu pada pengalaman lapangan.

Baca Juga:  Mahfud MD: Demokrasi Tanpa Penegakan Hukum Berpotensi Anarkis

“Ilmu administrasi negara adalah napas pekerjaan saya sehari-hari. Saya ingin melayani masyarakat dengan dasar literasi yang kuat, tidak hanya mengandalkan intuisi,” kata Mimik.

Jejaknya berangkat dari persoalan riil masyarakat. Sebelum masuk ke lingkar kekuasaan, ia dikenal aktif mendampingi warga di tingkat bawah.

Pengalaman itu membentuk kepekaan, tetapi juga membuka batas: empati tidak selalu cukup untuk membongkar kerumitan birokrasi.

Pilihan kembali ke bangku kuliah menjadi cara Mimik menjembatani pengalaman lapangan dengan kerangka kebijakan yang lebih sistematis. Ia mempelajari bagaimana keputusan publik dirancang, dijalankan, hingga dievaluasi.

Jadwalnya tak berubah ringan. Rapat koordinasi, kunjungan proyek, hingga agenda protokoler tetap berjalan. Di sela itu, ia menyisihkan waktu untuk membaca literatur, menyusun tugas, dan mengikuti perkuliahan.

Malam hari kerap menjadi ruang belajarnya. Tumpukan buku kebijakan publik dan manajemen organisasi menggantikan suasana rapat yang ia jalani siang harinya. Peralihan peran dari pejabat ke mahasiswa terjadi hampir setiap hari.

Baca Juga:  Pengukuhan Guru Besar Unitomo, Prof. Ully Tampubolon Dorong Batik Indonesia Jadi Kekuatan Industri Fashion Dunia

Baginya, pendidikan bukan pelengkap jabatan. Ia melihatnya sebagai alat kerja. Teori yang ia pelajari diposisikan sebagai pisau analisis untuk membaca masalah yang ia temui langsung di Sidoarjo.

Wisuda ini menyampaikan pesan yang lebih luas dari sekadar capaian pribadi. Ia menunjukkan bahwa usia, jabatan, dan peran domestik bukan alasan berhenti belajar.

“Jangan berhenti belajar. Mencari ilmu tidak punya garis akhir,” ujar Mimik.

Kini sorotan beralih ke langkah berikutnya. Warga menunggu apakah bekal akademik itu akan berbuah pada kebijakan yang lebih efektif, mulai dari layanan administrasi, pembangunan desa, hingga pengelolaan program publik.

Di titik ini, gelar sarjana bukan akhir perjalanan. Ia justru menjadi awal dari ekspektasi baru. (rul)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *