Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura
Rabu, tanggal 24 Juni lalu, Bandara Juanda menyajikan duka dan misteri yang pekat.
Toyota Innova warna hitam berpelat merah. M 1090 GP. Sudah terparkir empat hari berturut-turut di area Terminal 1. Dari kolongnya merembes cairan. Baunya menyengat. Orang-orang di sekitar jadi curiga.
Saat diintip dari kaca, ada perempuan berbaju kuning. Berjilbab. Sudah tidak bernyawa. Tubuhnya membengkak. Sempat muncul dugaan bahwa korban sedang hamil. Ah, ternyata bukan. Hasil pemeriksaan forensik memastikan korban tidak hamil. Perut yang membesar itu semata karena proses pembusukan alami yang telah berlangsung lebih dari 48 jam.
Belakangan identitasnya terkuak. Ia bukan ASN biasa. Namanya Ruly Yunis Setiawati. Usia 50 tahun. Pejabat penting di lingkungan Pemkab Bangkalan. Jabatannya mentereng: Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP).
Pertanyaannya: mengapa mobil dinas Pemkab Bangkalan bisa terparkir berhari-hari di Bandara Juanda? Dan mengapa sang pejabat tewas mengenaskan di dalamnya Wakil Bupati Bangkalan memastikan Ruly tidak sedang ada tugas dinas ke luar kota.
Mari kita coba rangkai logikanya. Menganalisis fenomena ini dari kepingan berita yang berseliweran di media massa.
Pertama, soal CCTV. Bandara adalah tempat dengan pengamanan berlapis. Kamera ada di mana-mana. Membuang atau meninggalkan mobil berisi mayat di bandara adalah tindakan yang (maaf) kurang cerdas. Pasti terekam.
Dan benar saja. Rekaman CCTV menunjukkan mobil itu masuk ke parkiran bandara. Yang mengemudikan bukan Ruly. Tapi seorang pria yang mengenakan masker dan kacamata. Ruly terlihat duduk di kursi penumpang sebelah kiri.
Apakah saat itu ia masih hidup? Kuasa hukum keluarga menduga kuat pembunuhan terjadi di luar area bandara. Juanda diyakini hanya dijadikan tempat pembuangan. Saat mobil masuk gate parkir, Ruly kemungkinan besar sudah tak bernyawa. Pelaku memarkirnya di sana murni untuk mengulur waktu.
Kedua, soal jejak perjalanan. Hari Kamis, 18 Juni, Ruly pergi dari rumah. Malamnya, ia masih hadir di acara pisah sambut Dandim di Bangkalan. Jumatnya, ia terlacak berada di kawasan Pujon dan Alun-Alun Kota Batu.
Di tengah perjalanan misteriusnya itu, ia bahkan sempat meminta dokumen Kartu Keluarga (KK) difoto dan dikirimkan kepadanya oleh pihak keluarga. Untuk urusan apa? Ini masih tanda tanya besar.
Di sinilah muncul petunjuk vital. Beredar luas sebuah video berdurasi 33 detik di grup-grup WhatsApp. Isinya berupa kolase foto “Ruly bersama seorang pria misterius” di Alun-Alun Kota Batu. Pria itu berkacamata, memakai kaus biru dengan garis tipis mencolok berwarna merah putih di bagian dada. Tanggal yang tercatat pada sistem kamera ponsel tertulis 19 Juni 2026.
Apakah pria berkaus garis itu adalah pria bermasker yang terekam CCTV Juanda? Polisi tentu sudah mengantongi analisis postur dan wajahnya. Ciri-cirinya terlalu spesifik untuk bisa mengelak.
Ketiga, kepastian forensik. Ini yang mengakhiri semua spekulasi. Tim forensik menemukan adanya pelebaran pembuluh darah, perubahan warna kebiruan pada selaput lendir bibir, dan warna merah kehitaman di saluran napas korban. Itu adalah kelainan yang lazim ditemukan pada korban mati lemas alias asfiksia. Ditambah lagi, ada temuan luka robek di telinga kiri korban.
Rentetan data forensik itu mengonfirmasi firasat pihak keluarga: ini adalah pembunuhan.
Sang pelaku rupanya ingin bermain petak umpet. Ia memarkir mobil itu di Juanda dengan harapan di tengah ribuan kendaraan, mobil itu tersamarkan. Ini memberinya waktu untuk melarikan diri.
Tapi ia lupa satu pepatah lama. Bangkai yang disembunyikan bagaimanapun pasti akan tercium juga. Ditambah lagi, di era digital seperti sekarang, jejak tak bisa dihapus begitu saja. Ponsel Ruly ada di tangan penyidik. Video kebersamaan di Kota Batu sudah menyebar luas. Rekaman CCTV Juanda menjadi saksi bisu.
Kasus ini sejatinya tidak terlampau rumit. Ini bukan cerita pembunuhan rapi ala novel detektif. Tidak perlu memanggil Detektif Conan atau Hercule Poirot. Ini adalah kejahatan yang meninggalkan terlalu banyak remah roti di sepanjang jalan.
Publik menunggu gebrakan kepolisian. Siapa pria misterius itu? Apa sebenarnya motif di balik nyawa yang melayang? Urusan asmara, uang, atau ada rahasia birokrasi lain yang disembunyikan di balik permintaan foto dokumen Kartu Keluarga itu?
Saya yakin tidak butuh waktu lama. Pria tersebut mungkin kini sedang gelisah. Bersembunyi sembari membaca berita yang makin hari makin mengerucut tajam ke arahnya. (*)

