Operasional Pasar Hewan Tidak Stabil, Capaian PAD Pasar Sumenep Terdampak

KABAR MADURA | Capaian pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pasar di Sumenep hingga awal September 2025 masih jauh dari target. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Sumenep baru mampu mengumpulkan 53 persen dari total target Rp2,6 miliar.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan DKUPP Sumenep Idham Halil mengakui capaian PAD tersebut masih rendah. Menurutnya, butuh kerja keras ekstra untuk memenuhi target, mengingat sisa waktu tahun anggaran tinggal empat bulan.

“Perolehan PAD pasar baru 53 persen. Kami akan maksimalkan potensi yang ada agar target tahun ini tercapai,” ujarnya.

Idham menjelaskan, rendahnya capaian PAD pasar utamanya disebabkan oleh tidak stabilnya operasional pasar hewan dalam dua tahun terakhir. Wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) membuat banyak pasar hewan terpaksa tutup, padahal kontribusi PAD terbesar berasal dari sektor tersebut.

Baca Juga:  Lima Koperasi Desa di Sumenep Dapat Mobil, Progres Pembangunan Masih Jalan di Tempat

“Pendapatan PAD kami paling besar di pasar hewan. Kalau pasar hewan sepi, otomatis kami kewalahan untuk memenuhi target,” imbuhnya.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Tahun lalu, target PAD pasar sebesar Rp2 miliar pun tidak tercapai. Namun tahun ini target dinaikkan menjadi Rp2,6 miliar, meski kondisi di lapangan masih belum sepenuhnya pulih.

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari. Dia menegaskan, PAD sektor pasar tidak boleh terus-terusan rendah dengan alasan pasar hewan lesu. Menurutnya, DKUPP harus lebih kreatif menggali potensi lain.

Baca Juga:  Bupati Fauzi Doakan Petani Tembakau Sumenep Panen Melimpah dan Harga Jual Menguntungkan

“Jangan setiap tahun beralasan pasar hewan sepi. Harus ada strategi lain untuk mengoptimalkan potensi PAD. Masih banyak sektor pasar tradisional maupun retribusi lain yang bisa dimaksimalkan,” tegas Juhari.

Dia juga mengingatkan bahwa PAD merupakan salah satu sumber penting pembiayaan pembangunan daerah. Bila capaian terus rendah, maka akan berdampak pada lambatnya pembangunan yang menyentuh masyarakat langsung.

“Kami minta DKUPP benar-benar bekerja optimal. Jangan menunggu, tapi jemput bola. Kalau pasar hewan tidak stabil, harus ada alternatif sumber PAD yang digarap serius,” pungkasnya. (ara/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *