KABAR MADURA | Capaian pendapatan asli daerah (PAD) sektor pasar di Kabupaten Sumenep hingga menjelang akhir tahun kembali menjadi sorotan tajam wakil rakyat. Realisasi yang baru mencapai 79 persen atau sekitar Rp1,97 miliar dari target Rp2,6 miliar, dinilai terlalu rendah untuk ukuran sektor strategis yang menjadi tulang punggung PAD daerah.
Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari menegaskan bahwa Diskop UKM Perindag Sumenep harus bergerak lebih cepat dan kreatif untuk mengejar kekurangan PAD dengan waktu yang tersisa.
“Banyak potensi di pasar yang bisa dimaksimalkan. Dinas jangan hanya berpangku tangan pada pasar sapi. Harus kreatif, harus ada terobosan,” tegasnya.
Menurut Juhari, ketergantungan berlebihan pada pendapatan pasar hewan terbukti menjadi persoalan krusial. Dua tahun terakhir, operasional pasar hewan tidak stabil akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), sehingga berdampak signifikan terhadap pendapatan.
Karena PAD merupakan sumber vital pembiayaan pembangunan daerah, ia mengingatkan bahwa kegagalan mencapai target akan menimbulkan efek domino pada layanan publik.
“Kalau target PAD tidak tercapai, konsekuensinya bisa mengganggu pembangunan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dinas harus aktif, jemput bola, dan mengoptimalkan seluruh peluang,” tegas politisi PPP tersebut.
Di sisi lain, Kepala Bidang Perdagangan Diskop UKM Perindag Sumenep Idham Halil mengakui realisasi PAD sektor pasar saat ini masih rendah. Dia menjelaskan bahwa target tahun ini memang jauh lebih tinggi dibanding 2024, ketika target Rp2 miliar saja tidak sepenuhnya tercapai.
“Meski rendah, kami tetap bekerja keras untuk mengejar kekurangan. Kami optimis target bisa tercapai,” ujarnya.
Idham menegaskan bahwa imbas penutupan pasar hewan akibat PMK dua tahun terakhir menjadi faktor utama rendahnya capaian PAD. Sementara itu, sektor pasar lain dinilai belum mampu menutupi defisit tersebut. (ara/waw)





