Merawat Perbedaan Penetapan 1 Ramadhan: Refleksi tentang Kepercayaan dan Kedewasaan Beragama

Opini56 views

Oleh: Achmad Muhlis, Direktur Utama IBS PKMKK.

Perbedaan penetapan 1 Ramadan sering disederhanakandalam dikotomi klasik, hisab versus rukyat. Padahal, dalamrealitas kontemporer, hampir semua otoritas keagamaan Islam telah memanfaatkan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat(observasi hilal) dalam kadar yang berbeda. Karena itu, akarperbedaan tidak lagi semata pada metode, melainkan pada dimensi lain yang lebih mendasar, yakni konstruksi matla‘ (wilayah keberlakuan), konsep otoritas, standar visibilitas, dan paradigma kesatuan umat.

Dalam literatur klasik, perdebatan tentang ittihād al-maṭāli(kesatuan matla) dan ikhtilāf al-maṭāli (perbedaan matla) telah muncul sejak awal Islam, misalnya Imam al-Syafi‘i dan sebagian fuqaha menerima kemungkinan perbedaan matlaberdasarkan perbedaan wilayah geografis. Sementara sebagianulama lain cenderung pada kesatuan matla‘ demi simbolpersatuan umat.

Perbedaan kontemporer dalam penetapan 1 Ramadan seringkali berakar pada pilihan konseptual ini. Apakah satu hilal di suatu tempat berlaku global? Ataukah keberlakuannya bersifatregional?. Dalam hal ini, umat Islam hidup dalam negara-bangsayang memiliki batas teritorial dan sistem hukum masing-masing. Maka, perbedaan bukan lagi antara hisab dan rukyat, melainkanantara paradigma global dan paradigma regional.

Baca Juga:  Tidak Sempat Tarawih karena Kerja? Ketua MWCNU Kamal Sebut Tetap Bisa Raih Lailatul Qadar

Perbedaan awal Ramadhan juga berkaitan dengankebutuhan komunitas untuk menegaskan identitasnya. Penetapanyang berbeda dapat menjadi simbol diferensiasi sosial, carasuatu kelompok mempertahankan konsistensi ideologis dan otonomi epistemiknya.

Dalam masyarakat majemuk, diferensiasi ini bukan sekadarperbedaan teknis, tetapi representasi dari pluralitas otoritas dan tradisi pemikiran. Perbedaan awal Ramadhan menjadi bagiandari dinamika boundary maintenance, pemeliharaan batas identitas kelompok agar tetap eksis dan diakui.

Disamping itu juga dipengaruhi oleh faktor kepercayaankolektif (collective trust) dan loyalitas kelompok. Individucenderung mengikuti keputusan otoritas yang secara emosionaldan historis mereka percayai. Loyalitas ini sering kali lebih kuatdaripada argumen teknis astronomis.

Baca Juga:  Etika Sosial Zakat Profesi Tukang Parkir dan Pengemis: Kewajiban Zakat bagi Pekerja Informal dengan Penghasilan Setara Nisab

Fenomena ini menjelaskan mengapa perbedaan tetapbertahan meskipun teknologi astronomi semakin canggih? karena yang dipertaruhkan bukan sekadar data ilmiah, tetapikepercayaan dan rasa kebersamaan dalam komunitas, sertaperbedaan ini tiak di persepsikan sebagai kegagalan, tetapisebagai bukti bahwa umat Islam masih menghidupkan tradisiintelektualnya, selama perbedaan itu berada dalam koridorilmiah dan etis, ia merupakan kekayaan metodologis dan rahmatbagi masyarakat Indonesia. Artinya kita tidak perlu terjebakpada polarisasi hisab versus rukyat, karena perbedaan ini, bagianrefleksi dari pluralitas otoritas, dinamika identitas, relasi agama-negara, serta konstruksi sosial atas waktu dan legitimasi.

Dengan demikian, solusinya bukan hanya penyatuanmetode, tetapi dialog sosial yang menghargai keberagamanotoritas dan membangun kepercayaan lintas komunitas. Kesadaran ini penting agar perbedaan tidak berubah menjadifragmentasi sosial, melainkan tetap berada dalam kerangkatoleransi dan kedewasaan beragama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *