Tembakau (Daun Emas)
Tembakau adalah identitas masyarakat Madura. Sebagai entitas hasil pertanian, tembakau merupakan komoditas penting yang berdampak ekonomi cukup tinggi bagi masyarakat. Dari tembakau, jutaan masyarakat Madura secara umum, mulai dari Sumenep, Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan, menggantungkan hidupnya.
“Daun emas” adalah terminologi tertinggi dari tembakau, ruh masyarakat Madura. Julukan ini bukan tanpa alasan, karena tembakau memberi keuntungan ekonomi yang cukup tinggi dan sistemik. Manfaatnya dirasakan mulai dari petani, pekerja di sektor pertanian tembakau, pedagang (kecil hingga besar), industri hasil tembakau (rokok), pekerja pabrik rokok, hingga pemasar.
Daun emas adalah tembakau Madura, tembakau terbaik Nusantara. Ibarat kata, tuan dari semua tembakau adalah tembakau Madura. Rokok tanpa campuran Madura, seperti masakan tanpa garam.
Festival Tembakau (Tobacco Festival)
Sebagai perwujudan ritual hidup di ujung timur Madura, masyarakat mengawalinya dengan sebuah selametan tahunan bernama Festival Tembakau Madura. Lebih dari sekadar seremoni, festival ini merupakan ungkapan syukur atas hasil pertanian tembakau, sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan.
Festival Tembakau Madura pertama kali digelar masyarakat Lebeng Timur, Pasongsongan, Sumenep, pada tahun 2019. Kegiatan itu dibiayai secara swadaya sebagai wujud syukur, dan kemudian mendapat perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah kabupaten.
Pada 2020, meski pandemi Covid-19 melanda, Festival Tembakau II tetap digelar secara virtual melalui Instagram dan YouTube. Tahun berikutnya, Festival III tahun 2021 juga dilaksanakan secara virtual. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan dukungan anggaran karena kegiatan ini dianggap rutin dan konsisten. Desa Lebeng Timur pun ditetapkan sebagai Desa Budaya, sebuah pengakuan dan apresiasi tinggi dari pemerintah pusat.
Rangkaian festival biasanya diawali lomba permainan tradisional kerrabhan ope dan dhamar korong. Lalu panen ikan di waduk, lomba linting dan rajang tembakau, serta tasyakur masyarakat desa dengan tahlil, salawat bersama, dan ceramah. Pameran dan galeri tembakau juga digelar, di mana pengunjung dipersilakan mencicipi berbagai jenis tembakau Madura.
Festival Tembakau IV tahun 2023 berlangsung meriah. Masyarakat Lebeng Timur penuh rasa syukur setelah melewati masa pandemi. Selain lomba permainan tradisional, ada lomba misel bhako (linting), galeri tembakau, pasar tembakau, parade tembakau, kopi kacang, serta atraksi seni dan tradisi. Pertunjukan rakyat rak karagan, saronen, jaran kencak, sintung, tarian teater, dan musik turut memeriahkan acara.
Bagi masyarakat Lebeng Timur Pasongsongan, festival ini adalah gema suka cita dan syukur yang penuh khidmat. Mereka melaksanakan ritual agama, budaya, dan kesenian sebagai doa agar tembakau tetap menjadi daun emas bagi masyarakat Madura.
Festival Tembakau 2025: Sebuah Ironi Ahistoris
Dalam rilis Calendar of Events Pemerintah Kabupaten Sumenep (Disbudporapar), Festival Tembakau masuk sebagai salah satu agenda resmi tahun 2025.
Padahal sejak 2019, festival ini adalah ritual daun emas masyarakat, digelar di tanah tempat mereka menanam tembakau. Di situlah para petani meneteskan keringat dan doa, di tengah ketidakpastian cuaca dan harga pascapanen. Maka, festival dilakukan dengan rokat desa (tahlil, salawat, doa-doa) sekaligus hiburan rakyat berupa lomba dan kesenian.
Kini, jauh panggang dari api. Sebuah ironi yang ahistoris. Pada Festival Tembakau III, pemerintah pusat memberi dukungan anggaran tanpa memindahkan lokasi kegiatan ke Jakarta atau provinsi lain. Festival tetap digelar di tanah para petani, sebab itulah ruh sesungguhnya dari ritual daun emas.
Namun, Festival Tembakau V tahun 2025 yang masuk kalender Disbudporapar justru akan digelar di Stadion A. Yani, Kota Sumenep, pada 28 Agustus–3 September 2025. Festival tidak lagi diselenggarakan di tanah masyarakat Lebeng Timur, Pasongsongan.
Dengan bangga, pemerintah daerah mengusung tema Menjaga Warisan, Mengangkat Potensi Tembakau Madura ke Kelas Dunia. Namun, bagi masyarakat Lebeng Timur, ini adalah sebuah ironi ahistoris: mereka tidak lagi menjalani ritual daun emas di tanahnya sendiri.
Slogan Bung Karno, “Jas Merah – Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” seolah hanya menjadi lelucon bagi pelaksana Festival Tembakau 2025 yang kini lebih berorientasi pada riuh seremonial.
__
Penulis: Ahmad AW
Penikmat Seni Budaya





