KABAR MADURA | Kasus campak di Pamekasan terus mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meminta agar sampel tidak lagi dikirim ke laboratorium.
Hingga 13 September 2025, tercatat 565 orang berstatus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 178 dinyatakan positif, 508 sembuh, 51 masih dirawat, dan 6 meninggal dunia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, Avira Sulistyowati, menyampaikan bahwa tingginya angka kasus campak membuat Kemenkes mengeluarkan kebijakan baru, yakni agar sampel suspek campak tidak lagi dikirim ke laboratorium.
“Karena kasusnya sudah dianggap pasti campak, maka tidak perlu lagi kirim spesimen, kecuali pada kasus kematian untuk audit medis,” paparnya, Minggu (14/9/2025).
Avira merinci, dari 51 pasien yang masih menjalani perawatan, sebanyak 46 orang dirawat di sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD dr. Slamet Martodirdjo, RSUD Waru, RS Larasati, dan RS Mohammad Noer. Sementara itu, empat pasien dirawat di puskesmas dan satu di klinik.
Menurutnya, faktor kematian pasien umumnya disebabkan oleh komplikasi akibat keterlambatan penanganan, karena orang tua tidak segera membawa anak ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.
“Banyak yang terlambat dibawa ke faskes, padahal campak bisa berkomplikasi menjadi pneumonia dan penyakit lain jika tidak segera ditangani,” ujarnya.
Sebagai langkah penanggulangan, Dinkes Pamekasan akan melaksanakan imunisasi tambahan campak secara serentak mulai 15 hingga 27 September 2025. Oleh karena itu, anak di bawah 9 tahun diminta untuk segera diimunisasi.
Avira juga mengimbau masyarakat agar tidak menunda pengobatan ketika anak menunjukkan gejala panas dan ruam.
“Segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit, jangan ditangani sendiri di rumah. Dan pastikan anak-anak mendapat imunisasi tambahan,” tegasnya. (rul/ong)





