Kegilaan

Falsafah Harian4,567 views

Oleh: Ahmad Sahidah*)

Setiap kali ke kampus, saya sering berserobok dengan orang gila, baik lelaki atau perempuan, yang berjalan kaki di sepanjang jalan menuju universitas. Ada seorang lelaki yang bertelanjang dada senantiasa melangkahkan tungkai. Saya hanya sekali melihatnya diam berdiri. Seorang perempuan dekil tampak mencari remah-remah makanan di tong sampah dekat pom bensin. Ia tampak kusam dan kurus.

Apa yang membuatnya keduanya hilang akal? Kita bisa melihatnya dengan mudah, dari komunikasi, fisik, dan interaksi dengan orang lain yang di luar kelaziman. Ada Sebagian yang bisa diajak bicara, tetapi sering bertukar tangkap dengan lepas. Saya sendiri pernah memberi sebungkus rokok pada seseorang yang dianggap gila oleh warga kampung. Anehnya, meskipun kami tak bertemu dalam waktu lama, ia masih ingat nama saya dan mengucapkan terima kasih.

Adakah orang yang masih menghargai kebaikan liyan itu merupakan tanda kegilaan? Ia lelaki bujang dan tak bekerja. Praktis, ia bergantung pada orang lain. Tetangga dan warga memakluminya. Inilah yang menyebabkan pria yang tampak bersih itu dianggap tidak normal. Betapa hidup membujang dan tak memiliki mata pencarian menyebabkannya merasa tak bermakna.

Lalu, apa semua orang yang tampak normal itu tidak gila? Dalam pengantar buku Madness and Civilization Michel Foucault, kita dapat menimbang kutipan yang dinisbatkan pada Blaise Pascal, yakni “Men are so necessarily mad, that not to be mad would amount to another form of madness”. Artinya, jika seseorang tampak tak gila, justru itu bisa menjadi manifestasi lain dari kegilaan.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Foucault menempatkan kutipan di atas sebagai pintu masuk ke gagasannya tentang kegilaan sebagai konstruksi sosial dan alat pemisahan antara akal budi dan tidak berakal. Dari sini, Anda bisa membaca buku di atas untuk mengetahui betapa secara historis, respons manusia terhadap fenomena ini mengalami perubahan. Filsuf Perancis tersebut menunjukkan bahwa kegilaan berubah-ubah maknanya tergantung struktur sosial dan zaman.

Menariknya, kegilaan seringkali ditentukan oleh kekuatan sosial, bukan ketentuan objektif. Dulu, di abad ke-19, banyak perempuan yang tidak patuh terhadap norma patriarki, misalnya terlalu vokal, emosional, atau menolak menikah, didiagnosis sebagai histeris dan bahkan dipasung serta dikurung di rumah sakit jiwa. Kini, kita sering menemukan perempuan yang melajang karena pilihan dalam menjalani hidup dan tidak dianggap gila.

Sementara, prilaku aneh yang ditunjukkan oleh seseorang dari keluarga tokoh keagamaan dapat dilihat sebagai gila dalam satu konteks, namun menjadi suci atau sakral di konteks lain. Jadi, norma ditentukan berdasarkan kepercayaan dan kebiasaan. Dulu, waktu kecil, saya melihat dari dekat seorang lelaki yang puasa bicara dan bertelanjang dada. Warga melihatnya sebagai khèlap, dari kata khilaf, yakni berbeda dengan orang kebanyakan. Tak pelak, ia dihormati oleh banyak orang di dusun kami.

Nah, bagaimana dengan orang ramai yang dipandang normal? Apakah mereka memang tidak gila? Misalnya, seorang individu yang berutang demi memenuhi gaya hidup konsumtif modern. Dari pendekatan kritis kultural, ia tidak dianggap gila secara medis, melainkan dalam arti simbolik atau struktural. Malangnya, karena utang menumpuk, ia bisa mengalami tekanan karena tagihan dan akhirnya hilang akal, serta paling apes bunuh diri.

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kegilaan bisa dilihat secara medis dan kritis. Berkat perkembangan kedokteran modern, prosac dan obat sejenisnya memang bisa membantu seseorang yang mengalami tekanan luar biasa untuk keluar dari keadaan tidak normal. Tetapi, saya pernah mengamati orang yang pernah gila dari dekat di mana obat-obatan yang memulihkannya tidak membuat orang tersebut kembali pada kehidupan semula. Ia kadang melihat sesuatu dengan tatapan kosong.

Tambahan lagi, kegilaan simbolik mungkin perlu ditimbang. Seseorang yang mengejar kekayaan membangun istana memang tampak absurd. Ia bukan raja tetapi membangun rumah besar, yang menyisakan banyak ruang kosong. Lagi pula, ia tidak bersikap rasional karena harus membiayai perawatan banyak ruang hanya untuk mendatangkan kesan tajir. Anehnya, penghormatan diharapkan lahir dari kepemilikan kediaman mewah. Lebih gila lagi, warga pun menempatkannya sebagai orang yang terhormat hanya karena ia mempunyai rumah, yang dibangun dari semen, batu, dan kayu. Gila lu!

Untuk itu, rasionalitas justru menjadi salah satu cara kita mengada secara waras. Atas dasar inilah bila membangun rumah kita tidak menyisakan banyak kamar yang kosong karena ia ditempati oleh setan. Secara semiotik, setan itu adalah lambang keburukan karena prilaku manusia yang mubazir itu secara deontologis tidak etis. Jadi, agar tidak gila, hiduplah secara sederhana dan saksama.

*) Dosen Filsafat Keuangan Universitas Nurul Jadid.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *