Dalam ruang kelas dan perpustakaan kampus, pemandangan yang lazim dijumpai adalah para mahasiswa dan dosen yang terpaku pada layar gawai masing-masing. Interaksi manusia yang autentik perlahan tergantikan oleh notifikasi dan pesan instan. Isu yang mengemuka adalah ilusi konektivitas: sebuah paradoks di mana alat yang dirancang untuk menghubungkan justru menciptakan bentuk kesendirian yang baru dan lebih dalam. Kita secara fisik hadir bersama orang lain, tetapi secara mental dan emosional terasing dalam ekosistem digital individu. Fenomena ini memprihatinkan dalam konteks akademik, sebuah ranah yang sejatinya dibangun di atas dialog, debat pemikiran, dan pertukaran gagasan yang hidup.
Filsuf eksistensialis abad ke-20, Martin Heidegger, memberikan kerangka untuk memahami masalah ini melalui konsep das Man (the They). Heidegger berhujah bahwa masyarakat modern cenderung menyerahkan individualitasnya pada opini publik dan norma-norma impersonal das Man. Gawai menjadi perwujudan sempurna dari das Man zaman sekarang. Ia mendikte bagaimana kita berperilaku, berkomunikasi, dan bahkan berpikir. Dalam konteks kampus, mahasiswa dan dosen bisa saja terjerumus dalam arus tren digital, likes, dan share, tanpa menyadari bahwa mereka telah kehilangan pandangan autentiknya sendiri. Kesendirian yang seharusnya menjadi ruang untuk kontemplasi diri, puncak tertinggi dari eksistensinya Aristoteles, justru diisi oleh kebisingan komunal yang dangkal.
Sementara Heidegger memperingatkan tentang kehilangan diri dalam keramaian, filsuf Blaise Pascal justru melihat akar masalahnya dari sudut yang berbeda. Ia terkenal dengan pernyataannya, “All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone.” Ketidakmampuan untuk berhadap-hadapan dengan diri sendiri inilah yang membuat kita lari pada segala bentuk pengalihan (distraction), termasuk gawai. Bagi banyak mahasiswa dan dosen, membuka telepon genggam adalah refleks untuk menghindari kesendirian yang membuat tidak nyaman, seperti detik-detik jeda antar kelas, antre di kantin, atau bahkan saat menunggu presentasi dimulai. Gawai menjadi pelarian dari keheningan yang seharusnya produktif.
Namun, tidak semua kesendirian itu negatif. Filsuf Friedrich Nietzsche menawarkan konsep yang kontras: kesendirian yang volunter dan produktif. Ia menyebutnya sebagai “kematangan”, sebuah tahap di mana jiwa yang kuat meninggalkan kawanan untuk mencari nilai-nilainya sendiri. Bagi Nietzsche, kesendirian bukanlah kutukan melainkan prasyarat untuk penciptaan dan pemikiran orisinal. Dalam dunia akademik yang ideal, kesendirian semacam ini adalah ruang di mana teori dibedah, argumen disusun, dan proposisi ditulis. Masalahnya adalah gawai terus-menerus mengganggu dan merampas kesempatan untuk mengalami kesendirian yang membangun ini.
Teori sosial modern, seperti yang diusung oleh Sherry Turkle dalam buku Alone Together, memperkuat analisis filsafat klasik ini. Turkle mengamati bahwa kita semakin mengharapkan lebih banyak dari teknologi dan semakin sedikit dari manusia. Dalam konteks kampus, dosen mungkin merasa lebih mudah mengirim surat elektronik (surel) panjang daripada mengajak mahasiswa bercakap setelah kelas. Mahasiswa mungkin lebih nyaman berdiskusi melalui grup “chat” daripada bertemu langsung. Hal ini mengikis habitus akademik tradisional yang dibangun atas dasar “mentorship”, diskusi tatap muka, dan komunitas pemikir.
Lantas, apa solusi yang ditawarkan oleh filsafat? Pertama, kita harus melakukan pembedaan ontologis antara kesendirian yang terisolasi (loneliness) dan kesendirian yang menyendiri (solitude). Kesendirian yang terisolasi adalah kondisi negatif akibat terputusnya hubungan yang bermakna (meaningful). Sebaliknya, kesendirian yang menyendiri adalah pilihan aktif untuk merenung dan berkontemplasi. Tujuan kita bukanlah menghilangkan kesendirian, tetapi mengubah kualitasnya dari yang pertama menjadi yang kedua.
Meneladankan Stoa
Solusi praktisnya adalah dengan mempraktikkan askesis digital—sebuah disiplin diri yang diinspirasi oleh para filsuf Stoik. Ini berarti secara sadar menciptakan “zona bebas gawai” dalam kehidupan akademik. Misalnya, dosen dapat menerapkan kebijakan “no laptop/tablet” di kelas diskusi untuk mendorong keterlibatan penuh dan utuh. Perpustakaan dapat memiliki ruang baca sunyi tanpa sinyal Wi-Fi. Individu dapat menjadwalkan “jam kontemplasi” tanpa gangguan digital setiap harinya untuk membaca, menulis, atau sekadar merenung.
Pada tingkat yang lebih luas, komunitas akademik harus secara aktif merancang ruang-ruang untuk kebersamaan yang autentik. Universitas bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga komunitas penelitian (communitas of inquiry). Ini dapat diwujudkan melalui forum diskusi informal, klub baca filsafat, atau seminar yang mendorong dialog terbuka alih-alih presentasi satu arah. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan antara solitude yang diperlukan untuk berpikir mendalam dan kebersamaan (togetherness) yang diperlukan untuk menguji dan mempertajam pemikiran tersebut.
Kesimpulannya, hubungan simbiosis negatif antara gawai dan kesendirian dalam dunia akademik adalah tantangan eksistensial. Gawai bukanlah musuh yang harus dimusnahkan, melainkan alat yang perlu ditundukkan di bawah kendali kesadaran manusia. Dengan kembali pada kebijaksanaan filsafat, dari Pascal hingga Nietzsche, kita diajak untuk tidak takut pada keheningan. Justru dalam kesendirian yang disengaja dan bermakna itulah intelektualitas dan identitas akademik kita ditempa. Dengan membangun disiplin diri dan komunitas yang autentik, kita dapat menggunakan teknologi tanpa diperbudaknya, merangkul kesendirian tanpa merasa terasing, dan pada akhirnya memulihkan hati nurani akademik yang reflektif dan manusiawi.



