KABAR MADURA | Rektor Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura Prof. Rachmad Hidayat menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritisnya. Menurutnya, kampus harus menjadi laboratorium gagasan sekaligus benteng moral dalam mengawal kebijakan publik.
“Kampus adalah ruang lahirnya pikiran-pikiran besar. Tradisi kajian harus terus dihidupkan agar mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor perubahan yang cerdas dan berintegritas,” tegas Prof. Rachmad.
Dia menyampaikan bahwa kebijakan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, perlu dikawal secara konstruktif. Kritik, lanjutnya, bukanlah bentuk perlawanan tanpa arah, melainkan wujud kepedulian akademik demi perbaikan bersama.
“Mahasiswa harus berani bersuara. Namun suara itu lahir dari data, riset, dan analisis yang kuat. Di situlah peran kajian menjadi penting,” tambahnya.
Semangat tersebut juga digaungkan oleh Presiden Mahasiswa UNIBA Madura, Rofiqul Mukhlisin. Dia menyatakan bahwa mahasiswa UNIBA siap menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan publik, dengan tetap menjunjung etika dan tradisi intelektual.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap kebijakan berpihak pada rakyat. Jika ada yang perlu dikritisi, kami akan menyampaikannya secara objektif dan berbasis kajian,” ujar Rofiqul.
Menurutnya, tradisi diskusi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Mahasiswa harus aktif turun ke masyarakat, menyerap aspirasi, lalu membawanya kembali ke forum akademik untuk dikaji secara mendalam.
“UNIBA harus menjadi rumah besar bagi tumbuhnya nalar kritis. Kami ingin budaya literasi, diskusi, dan riset benar-benar menjadi identitas mahasiswa,” tandasnya. (ara/waw)





