Oleh: Yusuf Arifai
Di tengah keheningan Banyuwangi, di sebuah hotel yang mungkin hanya beberapa orang tahu namanya sebelum ini, berkumpullah 46 wartawan dari seantero Jawa Timur. Mereka datang dengan satu misi: memastikan diri layak menyandang predikat wartawan kompeten. Bukan sekadar selembar sertifikat, melainkan simbol perjuangan, pengabdian, dan—ah, siapa tahu—mungkin juga panggilan kenabian kecil-kecilan dalam dunia jurnalistik.
Dewan Pers, melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW), menjadi penjaga gawang. Bukan gawang sepak bola, tentu. Tapi gawang demokrasi. Mereka yang lulus, diharapkan bisa lebih dari sekadar melaporkan kabar berita; mereka adalah penjaga nilai-nilai mulia yang disematkan kepada profesi ini. Hotel Kokoon, Banyuwangi, menjadi saksi bisu dua hari yang tak terlupakan, 18 hingga 19 Oktober 2024.
Dua lembaga uji hadir, Unitomo Surabaya dan Kompas. Mereka berperan sebagai hakim, bukan yang gemar memukul palu, melainkan penguji yang menentukan apakah peserta layak atau tidak. Hasilnya? 46 wartawan keluar dari ruangan dengan kepala tegak. Mereka kompeten. Begitu setidaknya yang disampaikan Dewi Indriastuti, penguji dari Kompas.
Dewi punya cerita tersendiri. “Satu peserta sakit, tapi tidak menyerah. Meskipun harus berjuang keras, dia berhasil lulus,” ujarnya dengan nada yang, entah kenapa, terdengar seperti ibu yang bangga pada anaknya. Ya, mungkin begitu cara wartawan senior memandang anak-anak jurnalistiknya—dengan kasih dan harapan.
Lain halnya dengan Zainal Arifin Emka dari Unitomo. Di bawah pengawasannya, 42 peserta diuji. “40 dinyatakan kompeten,” katanya. Bukan main, 40 wartawan yang kini berhak menyandang gelar “kompeten” ini akan kembali ke tempat masing-masing membawa tanggung jawab besar: menjaga kebenaran, menyuarakan suara-suara kecil yang sering kali terlupakan.
“Wartawan itu seperti nabi,” ujar Zainal lagi. Sederhana, tapi dalam. Di masa kini, di mana segala sesuatu berlomba-lomba menjadi viral dan instan, wartawan harus tetap teguh menyampaikan kabar baik. Bukan kabar bohong. Tugas wartawan mulia, katanya, terutama dalam menjaga demokrasi. Ah, demokrasi. Kata yang sering kita dengar tapi jarang kita renungi maknanya.
Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, juga tak mau ketinggalan. Ia mengucapkan selamat kepada para peserta yang telah berjuang. “Profesi ini agung,” katanya, menekankan pentingnya profesionalisme seorang wartawan. Mungkin bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar klise. Tapi bagi mereka yang mendengar langsung, pasti terasa berbeda. Kata-kata itu mengalir masuk ke dalam hati yang telah lelah berjuang dua hari penuh.
Di balik kesuksesan UKW ini, ada kisah Didik Indrianto, seorang wartawan berusia 60 tahun dari Sidoarjo. Dengan nekat, ia mengendarai sepeda motor dari kampung halamannya hingga Banyuwangi, bukan untuk mencari sensasi, tetapi untuk menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk belajar. “Belajar itu sepanjang hayat,” ujarnya. “Yang tua saja masih semangat, jadi yang muda jangan kalah!” Ada api di matanya, seperti yang pernah kita lihat pada para pahlawan masa lalu.
UKW Banyuwangi bukan sekadar acara formalitas belaka. Ini adalah ajang pembuktian bahwa menjadi wartawan tidak hanya tentang mencari berita, tetapi tentang memahami esensi dari profesi ini: mengabdi kepada kebenaran dan masyarakat. Para peserta pulang dengan kepala tegak, membawa misi baru, siap kembali ke dunia nyata sebagai penjaga pilar-pilar demokrasi.
Dan kita, para pembaca, hanya bisa berharap bahwa tangan-tangan mereka yang kini menyandang predikat kompeten akan terus menulis kebenaran. Seperti kata Ninik, “Profesi ini ibarat dewa dalam menegakkan demokrasi.”
Selamat jalan, kawan-kawan wartawan. Perjalanan kalian masih panjang, tapi kita percaya kalian sudah berada di jalur yang benar. (*)





