KABAR MADURA | Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Rutan Kelas IIB Sumenep, kerap terdengar irama merdu qasidah dan banjari yang melantun di lorong-lorong sel. Bukan dari pengeras suara masjid, melainkan dari para narapidana yang membentuk grup musik religi sebagai bentuk pelarian spiritual dan perenungan diri.
MOH.RAZIN, SUMENEP
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Bagi para napi, qasidah dan banjari menjadi jembatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus sarana memperbaiki diri. Dalam setiap lirik yang mereka nyanyikan, terselip doa, penyesalan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik selepas menjalani hukuman.
Achmari mengatakan, kegiatan ini digagas sebagai bagian dari pembinaan kepribadian dan spiritual di dalam rutan. Petugas tidak hanya memberikan ruang dan fasilitas, tapi juga mendampingi dengan pendekatan humanis. Para napi diajarkan teknik vokal, irama tabuhan rebana, serta pemaknaan lirik-lirik islami.
“Lewat qasidah, hati kami jadi lebih tenang. Kami merasa lebih dekat dengan Allah,” kata dia.
Kepala Rutan Kelas ll B Sumenep, Ridwan Susilo, menyebut bahwa pembinaan ini bertujuan untuk mengubah pola pikir para warga binaan.
“Kami ingin mereka keluar dari sini bukan hanya bebas secara fisik, tapi juga menjadi pribadi yang lebih baik secara rohani,” ucap Ridwan.
Menurutnya, beberapa narapidana yang sebelumnya dikenal temperamental, kini menjadi lebih sabar, tenang, dan aktif mengikuti kegiatan keagamaan. Lewat qasidah, para narapidana belajar mengenali kembali jati diri mereka.
Di tengah keterbatasan, mereka menemukan kebebasan baru yakni bebas dari belenggu masa lalu, bebas untuk bermimpi, dan bebas untuk menata hidup yang baru dengan hati yang lebih bersih.
“Karena sejatinya, setiap manusia berhak untuk berubah dan mendapatkan kesempatan kedua. Perubahan itu dimulai dari kebiasaan-kebiasan positif,” pungkasnya. (waw)





