KABAR MADURA | Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam memperkuat sektor kelautan dan perikanan kembali ditunjukkan secara nyata. Di bawah kepemimpinan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, tiga wilayah pesisir strategis diusulkan menjadi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Ketiga wilayah tersebut meliputi Pulau Giligenting, Pasongsongan, dan Ambunten. Kawasan ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat ekonomi berbasis kelautan yang modern dan berkelanjutan.
Bupati Fauzi menegaskan, usulan tersebut telah disampaikan langsung kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sebagai bagian dari langkah progresif mendorong kesejahteraan masyarakat nelayan, khususnya di wilayah kepulauan.
“Jika wilayah kepulauan juga memiliki KNMP, kami optimistis pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor kelautan dan perikanan, akan semakin meningkat,” ujar Fauzi.
Di bawah kepemimpinannya, Sumenep tidak hanya mengandalkan potensi, tetapi juga bergerak cepat memaksimalkan sumber daya yang ada. Sebagai daerah kepulauan dengan kekayaan laut melimpah, Fauzi dinilai mampu menghadirkan arah kebijakan yang tepat sasaran dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Program KNMP sendiri merupakan inisiatif pemerintah pusat yang bertujuan meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus mendorong nilai tambah hasil tangkapan. Fauzi melihat peluang besar dari program ini untuk menjadikan Sumenep sebagai salah satu model pengembangan ekonomi pesisir di Indonesia.
“Sumenep memiliki sumber daya perikanan yang luar biasa. Ini harus dikelola secara optimal agar benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Keseriusan tersebut bukan sekadar wacana. Sebelumnya, Pemkab Sumenep telah sukses merealisasikan pembangunan KNMP di Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, pada 2025. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata kepemimpinan Fauzi dalam menghadirkan program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Berbagai fasilitas penunjang telah dibangun, mulai dari pabrik es portabel, kios pemasaran ikan, bengkel nelayan, hingga sarana pendukung lainnya. Kehadiran fasilitas tersebut mampu memperkuat aktivitas ekonomi nelayan secara signifikan.
Di wilayah ini, tercatat sebanyak 1.893 kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Sebanyak 31 perahu tradisional aktif melaut setiap hari, menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. (ara/waw)





