Santri IBS PKMKK di Persimpangan Zaman Disiplin, Literasi Digital, dan Rekonstruksi Keteladanan di Tengah Perubahan Sosial

Rangkaian kegiatan IBS PKMKK yang melibatkan tokoh sastra-budaya seperti D. Zawawi Imron, pendidik seperti Masyhur Abadi, psikolog Ruki Herawati, aparat penegak hukum, hingga praktisi industri, mencerminkan kesadaran sosiologis bahwa santri hidup dalam realitas sosial yang kompleks. Santri hari ini bukan hanya anggota komunitas religius, tetapi juga warga digital yang berhadapan dengan media sosial, konten instan, cyber crime, judi online, dan narkotika.

Kebaruan

Di malam ambang pergantian tahun, saya bersama santri mahasiswa duduk di musala pondok untuk menggelar refleksi bersama. Kala sebagian remaja memenuhi jalanan, mereka tepekur untuk menimbang kembali apa yang mesti dilakukan di tahun 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Mohammad Jasri Ahyak, kepala Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa Universitas Nurul Jadid, hendak membelajarkan semua yang hadir dengan kesahajaan dalam menjalani keseharian. 

Keteladanan Makna yang Tergusur oleh Simbol bagi Masyarakat Madura

Struktur pengakuan sosial telah berubah, dan akan mengungkap dampaknya terhadap pembentukan kesadaran dan regulasi diri individu. Dengan demikian, narasi ini bukan sekadar kritik sosial, tetapi seruan reflektif, bahwa keteladanan sejati bukan soal siapa yang paling tampak shaleh berdasarkan aturan agama, melainkan siapa yang paling konsisten hidup dalam kebenaran, meski tanpa tepuk tangan, dan tanpa pujian.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.