Membangun Ulang Alam dan Manusia: Mengurangi Risiko Bencana Berbasis Ekonomi Sirkular

Pengurangan risiko bencana alam, khususnya banjir dan longsor, tidak dapat hanya bertumpu pada teknologi infrastruktur atau mitigasi fisik semata. Akar kerentanan bersifat ekologis, sosial, psikologis, sekaligus etis, sehingga solusi yang efektif harus mengintegrasikan teoekologi, kesatuan nilai teologis–etis, ekologi, dan konservasi dengan ekonomi sirkular sebagai kerangka praksis dalam membangun ulang relasi manusia–alam.

Guru: Figur Pemersatu, Bukan Pemicu Ketimpangan

Guru idealnya, memberikan kesempatan belajar setara bagi setiap peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial, menumbuhkan budaya empati, kebersamaan, dan penghargaan terhadap keberagaman, demi terciptanya keadilan sosial sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional.

Memperkuat Budaya Antikorupsi di Dunia Pendidikan

Problematika korupsi di Indonesia sudah menggurita pada semua lini institusi kenegaraan, baik pada ranah birokrasi pemerintahan/eksekutif, lembaga legislatif, lembaga penegak hukum, institusi pendidikan, bahkan pada ranah bantuan sosial (bansos), juga tidak luput dari praktik kejahatan korupsi yang melukai rasa keadilan masyarakat (grass root).

Etika Non-Transaksional “nyêmbê ê pêttênggãh”: Kepemimpinan Melayani-Pengabdian Tanpa Pamrih

Kehidupan masyarakat Madura yang dikenal menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung pada ungkapan “nyêmbê ê pêttênggãh”, akan menjadi pilar moral yang menegaskan bahwa pengabdian sosial harus dilaksanakan dengan ikhlas, lapang, dan bebas dari kalkulasi imbalan. Ungkapan ini merepresentasikan tindakan etis tanpa syarat, yakni sebuah nilai yang semakin penting dalam dunia sosial-politik saat ini yang cenderung transaksional.

Tômang Kôdûh Ngôkôs: Konsep Food Security Modern

Ungkapan orang madura masa lampau ini, secara bebas dapat dimaknai sebagai“meski sedikit tetap disimpan; meski sempit tetap bekerja”, artinya menghemat hasil panen, memprioritaskan kebutuhan pokok, serta bekerja secara terukur dan taktis, tetap bekerja keras meski hasil sedikit, tetap menyimpan meski rezeki tipis.

Hari Pahlawan dan Lahirnya Pahlawan Ekonomi di Era Modern

Tulisan Fadali Rahman, Dosen Magister Manajemen Universitas Madura, mengulas makna Hari Pahlawan dalam konteks modern. Kini perjuangan bangsa tidak lagi di medan perang, melainkan di bidang ekonomi melalui semangat inovasi, wirausaha, dan gotong royong para “pahlawan ekonomi” seperti petani, nelayan, buruh, dan pelaku UMKM yang menjaga kedaulatan dan kemandirian bangsa.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.