Remaja, Kekerasan Fisik, dan Jalan Pulang ke Hati: Mencari Akar Spiritualitas yang Hilang

Menurut Robinson (2018), kekerasan remaja lahir dari alienasi sosial dan hilangnya ruang spiritual di tengah masyarakat modern yang kompetitif dan serta materialistis. Remaja tidak sekadar marah, tetapi merasa tak terlihat oleh sistem sosial yang mengutamakan prestasi daripada perasaan. Robinson menyebut perlunya social healing, proses penyembuhan sosial melalui solidaritas, kasih sayang, perhatian dan pendidikan moral yang menumbuhkan makna hidup.

Kegelisahan Akademik; Menanggapi Fenomena Kekerasan Fisik Remaja saat Ini

Dalam konteks pendidikan Islam, kekerasan fisik bukan sekadar penyimpangan perilaku, melainkan cerminan dari ketidakseimbangan jiwa dan hilangnya nilai adab. Sejumlah pemikir besar Islam klasik seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Khaldun telah menguraikan prinsip-prinsip mendalam tentang bagaimana transformasi nilai spiritual menjadi kunci pembentukan akhlak dan karakter remaja saat ini.

Komitmen Global untuk Keselamatan Ekologis

Gavin Hayman dan Duncan Brack dalam penelitiannya yang berjudul ‘International Environmental Crime: The Nature and Control of Environmental Black Markets’ (2002) menyatakan bahwa lebih dari 250 (dua ratus lima puluh) perjanjian lingkungan internasional dan regional telah dikembangkan dalam tiga puluh tahun sejak Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Lingkungan di Stockholm pada tahun 1972. Perjanjian-perjanjian tersebut meliputi kerjasama ilmiah dalam rangka menggabungkan langkah-langkah kontrol substantif, seperti pembatasan perdagangan agar langkah menghindari kerusakan lingkungan semakin ditingkatkan. Keberadaan kontrol nasional dan internasional dapat berfungsi untuk mencegah munculnya tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh individu dan korporasi berupa kejahatan lingkungan yang secara sengaja menghindari hukum dan peraturan dalam rangka mengejar keuntungan finansial belaka, seperti modus pergerakan barang lintas batas atau penyelundupan hasil kejahatan lingkungan dan lain sebagainya.

Sumpah Pemuda dan Revolusi Ekonomi Generasi Milenial

Artikel opini oleh Fadali Rahman, Dosen Magister Manajemen Universitas Madura, mengulas bagaimana semangat Sumpah Pemuda 1928 perlu dihidupkan kembali dalam bentuk revolusi ekonomi digital oleh generasi milenial. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan kemandirian, pemuda Indonesia diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi nasional di era global.

Menakar Efektivitas Pemekaran Pamekasan dalam Mengatasi Kemiskinan dan Meningkatkan Kesejahteraan

Kondisi ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang ada selama ini belum cukup efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama yang rentan miskin. Pengangguran terbuka pun mengalami kenaikan sebesar 0,34% antara tahun 2022 dan 2023, mengindikasikan tantangan besar dalam menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data tersebut, jika pemekaran tidak disertai dengan kebijakan pembangunan yang tepat dan terintegrasi, risiko ketimpangan sosial akan semakin besar dan kemiskinan tidak berkurang secara signifikan.​

Makan Bergizi Gratis: Antara Krisis Kepercayaan dan Dampak Ekonomi

Opini Fadali Rahman mengulas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari perspektif ekonomi. Insiden keracunan makanan menimbulkan krisis kepercayaan, inefisiensi anggaran, hingga hilangnya peluang ekonomi lokal. Program ini perlu dikelola secara transparan, profesional, dan melibatkan UMKM agar benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas SDM dan pertumbuhan ekonomi.

Retorika Bergizi, Realita Pahit: Menguliti Kegagalan Program MBG

Sejak awal, MBG digadang sebagai kebijakan monumental. Presiden menyebutnya sebagai “investasi pada masa depan bangsa,” sebuah gagasan yang sekilas menyentuh hati rakyat. Namun, ada pola berulang yang sering terjadi dalam kebijakan populis janji lebih cepat daripada perencanaan, implementasi dikejar waktu politik, dan detail teknis terabaikan.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.